Friday LUv's Ship · Wednesday Story

Pacarku Labil dan Posesif (1)

This story is dedicated for my buddy, Hanny, who has gone through a season with a super possessive boyfriend ๐Ÿ™‚

October 2008

Tk Tk Tk..
Ia mengetuk jari telunjuknya diatas meja. Setumpuk kertas dan dokumen menjulang di hadapannya, jam dinding menunjukkan pukul 22.56, orang-orang kurus dengan kemeja lengan panjang berlalu lalang disekelilingnya.

“Apa semuanya sudah selesai, Leen?” tanya seniornya yang tiba-tiba muncul di balik tumpukan dokumen.
“Aku akan melanjutkannya besok. Sebagian besar sudah selesai.” jawabnya seperti robot. Ia tersadar dari lamunannya, membereskan mejanya yang bak kapal pecah dan menghabiskan kopinya sebelum ia beranjak pulang.

***

Letih, itulah yang dirasakannya. Pekerjaan sebagai auditor di kantor akuntan publik big4 sungguh menguras tenaganya, dan hubungan percintaannya lebih menguras lagi energi; bahkan merampas kebahagiaan serta keceriaannya lebih daripada sebelumnya. Ia memandang dirinya sendiri di cermin, hitamnya kantung mata semakin menebal, ia nyengir
dan melihat apakah senyumnya masih seperti dulu ~ dan yang ada ialah sebuah bayangan yang tidak dikenalinya.

Ia, Eileen, berusia 22 tahun dengan karir bermasa depan cerah dan kekasih yang perhatian. Ia lebih dikenal sebagai gadis yang supel, tubuh ramping cenderung kurus dengan wajah bulat khas dan senyum manis yang akan membuatmu terus teringat setelah sebuah perjumpaan. Ia supel, tidak heran melihatnya memiliki banyak pengagum pria diantara teman-temannya yang berjubel.

Dan hari ini, Ia tidak lagi menikmati hubungan percintaannya. Semalam ia baru saja bertengkar dengan kekasihnya, Alvin, untuk sesuatu yang benar-benar tidak penting. Ia tidak mengerti apa artinya meneruskan hubungan yang membuatnya semakin kering dan kurus. Tetapi tidak mudah baginya untuk menyudahi saja hubungan ini.

“Aku sudah membeli 4 tiket, buat kamu, aku dan kakak serta adikku.” kata Alvin.
“Oh, kamu juga mengajak kakak dan adikmu?”
“Iya. Kamu keberatan?” tanya Alvin sambil mengerinyitkan dahi.
Wajahnya lucu dan leen mencubit pipinya yang tembem.
“Tidak sama sekali. Aku juga mengajak Josephine dan pacarnya. Tadi sudah ku-sms no tempat duduk kita dan ternyata mereka masih bisa mendapatkan tiket disebelah kursi kita!” jawab leen dengan antusias.
Josephine ialah teman baiknya sejak mereka di Taman Kanak-kanak, mereka juga tetangga dan leen sudah menganggapnya bagaikan kakak sendiri.
“Ngapain kamu mengajak mereka sih? Memangnya mereka tidak bisa nonton berdua saja?” tukas Alvin dengan ketus. Mulai lagi dramanya!
“Lah, apa bedanya dengan adanya mereka? Yang penting aku disini, bersama-sama dengan orang-orang yang kusayangi.” jawab leen sabar sambil tersenyum.
“Lain kali kamu tidak perlu deh mengajak banyak orang, hari ini, aku cuma ingin kamu, aku dan kedua saudaraku saja. Kenapa sih kamu tidak nyaman yah kalau bersama dengan kakak dan adikku? Sampai mengajak mereka segala.”
“Aduh, Vin! Aku bahkan tidak tahu kamu mengajak kakak dan adikmu, bagaimana mungkin aku merasa tidak nyaman? Aku hanya teringat saja pada Jose dan pacarnya, jadi kupikir tidak ada salahnya mengajak mereka.”
“Aku tidak suka cara kamu. Bisa tidak kalau lain kali mau mengajak orang lain, kamu minta izin dulu padaku?” tanya Alvin masih dengan nada dan wajah yang penuh kemarahan. Leen benar benar sudah mulai kehilangan kesabaran dan memutuskan tidak menjawab apapun.

***

“Halo, yah ini Melanie. Iya kok, aku sedang bersama Eileen disini dengan Benny dan Harris. Kami hanya jalan-jalan saja.” jawab Mel pada Alvin. Alvin meneleponnya, secara tidak terduga, sebab setelah Alvin menjadi kekasih Eileen, mereka jarang sekali bertemu dalam acara apapun. Biasanya Eileen menjadi sangat sulit untuk diajak keluar pada hari weekend, jadi hari biasa sepulang kerja menjadi waktu yang sempurna bagi mereka untuk berkumpul.

Eileen, Mel, Benny dan Harris telah menjadi sebuah kelompok kecil diantara belasan teman-teman baik yang sering berkumpul. Tepatnya karena mereka patah hati di waktu yang hampir bersamaan, berkumpul bersama di malam minggu hingga tengah malam cukup membantu menghilangkan kesedihan karena merindukan mantan kekasih masing-masing pada malam dimana setiap pasangan kekasih keluar untuk berkencan (weekend).

Setelah setahun melakukan ritual berkumpul tanpa absen setiap malam minggu, akhirnya tibalah Eileen melepas masa single. Mel, Ben dan Harris masih menikmati masa single mereka. Saat ini hubungan mereka sudah berusia lebih dari 1 tahun, dan Eileen mulai menikmati setiap malam jumat, sabtu dan minggunya dengan si kekasih. Sebab Alvin tidak pernah sekalipun absen selama ini, jumat-sabtu-minggu ialah jadwal kencan yang sudah ketat ~ Eileen tidak akan bisa menyelipkan jadwal apapun.

***

21 Nov 2008
‘Wanita terindah dalam hidupku,, aku akan selalu mencintaimu Eileen..’ sebuah tulisan terpajang di wall social
networking Eileen. Alvin suka menulis kalimat-kalimat romantis, dan mengungkapkannya dihadapan banyak orang. Hal itu memberinya rasa aman dan percaya diri. Karena itu artinya, semua orang tahu kalau Eileen miliknya dan Eileen akan selalu ingat kalau ia memang sangat peduli dan mencintainya.

Leen memutar scroll mousenya kebawah,
22 Nov 2008 ‘Apapun yang terjadi, aku ingin selamanya menjadi pangeran
kuda putihmu..’
24 Nov 2008 ‘Langit cerah hari ini.. Aku bangun dengan semangat pagi
ini ketika mengingatmu..’
25 Nov 2008 ‘Hai sayang.. Kerja yang semangat yah dan jangan lupa
makan, nanti kamu sakit maag lho…’
26 Nov 2008 ‘Aduh baru hari rabu udah kangen kok yah.. Gak sabar
nunggu hari jumat malam? semangat yah sayang..’
27 Nov 2008 ‘Cewekku memang paling cantik.. Angin apa bisa dapat cewe
secantik kamu.’
28 Nov 2008 ‘Akhirnya hari ini kita ketemu.. Nanti sore kujemput yah,
udah kangen berat nih’
1 Dec 2008 ‘Mau makan, ingat kamu.. Mau tidur, ingat kamu..’
2 Dec 2008 ‘Maafin aku yah sayang aku marah-marah kaya tadi. Aku
sayang kamu makanya aku kaya begitu..’

Dan rentetan kalimat manis lainnya terpampang disepanjang wall profile Eileen. Sepertinya tulisan dari orang lain tidak lagi bisa ditemui bagaikan sejarah, hanya Alvin dan Alvin saja. Dari mereka baru pergi jalan-jalan, bertengkar, apapun yang orang lain ingin tahu soal Alvin dan Eileen bisa ditelusuri dari wall profile Eileen. Di satu sisi, Eileen menyadari bahwa Alvin sangat memujanya sementara di sisi lain ia merasa risih juga karena hubungan mereka sepertinya terlalu terexpose dihadapan semua orang. Ia berusaha mengabaikan perasaan risih, bukankah lebih baik memiliki pria yang memujamu dibandingkan pria yang malu punya hubungan denganmu? Expose kadang memang menjadi resikonya.

Drrrt.. Drrrt.. Ponsel Eileen bergetar. Hans.
Ia enggan mengangkatnya karena ia tidak ingin menimbulkan pertengkaran dengan Alvin jika mengangkat telepon dari teman pria. Tapi Alvin meraih ponselnya, “Siapa itu?”
“Itu teman lamaku, teman waktu SD, Hans..”
“Oh, apa aku pernah ketemu dengannya?” tanya Alvin setelah melihat sejenak ponsel Eillen lalu mengembalikannya. Alvin tampak sedikit uring-uringan tetapi tumben ia belum saja bersuara kencang dan marah marah seperti biasanya. Ia meraih ponselnya sendiri dan lanjut menyetir sambil mengetik sms.
“Tidak, kamu belum pernah kenalan dengannya. Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya.” jawab Eileen berusaha mengakhiri pembicaraan.
“Memangnya dia tidak tahu kamu punya pacar?”
“Yah, dia tau. Dari dulu kalau aku punya pacar, dia selalu tahu. Hanya saja, biasanya tidak ada yang begitu mempermasalahkannya.”
“Karena mantan-mantan pacarmu itu, tidak secinta aku padamu. Aku yang paling peduli padamu diantara semuanya, paling menyayangimu.”
“Kita mau nonton apa?” tanya Eileen mengalihkan pembicaraan.

***

Drrt.. Drrrt? Ponsel Eileen bergetar.. Hans.
“Halo?, iya Hans?”
“Leen? Tadi barusan ada yang telpon, namanya Alvin, dia bilang dia cowokmu dan dia kesel banget karena aku nelp kamu wiken malam kemarin itu.. kamu gak diomelin kan? Aku jadi ngak enak lho…”
“Apa? Kok dia bisa ada nomor teleponmu? Emang sih dia tau kamu telpon tapi udah kok.”
“Intinya dia bilang, dia itu pacarmu. Gitu doank sih. Dan dia interogasi aku ada hubungan apa sama kamu,.. yah biasalah cowok.”
“Oh okay. Sorry yah.” ucap Eileen dengan perasaan tidak enak hati. Ini bukan pertama kalinya, ia mendengar hal ini dari teman-teman prianya.
Rasa cemburu Alvin memang sangat tinggi terhadap semua pria.

(to be continued…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s