Monday Thoughts

Belajar Bahasa

Beberapa hari lalu, mamaku bertanya apakah inggrisku tidak lancar sehingga aku tidak memanfaatkan waktu berbincang secara maksimal dengan kakakku dan istrinya sewaktu mereka datang berlibur ke Indonesia.

FYI, Kakakku (35), Santo, menikah dengan seorang gadis bule bernama Joanne, dan ia telah kehilangan kemampuan fasih berbahasa Indonesia sebab ia telah meninggalkan negara asalnya ini lebih dari 25 tahun dan bergaul dengan non-indonesia. Aku menilai kakak kandungku sendiri sebagai native speaker karena ia lebih mampu berbicara dalam bahasa inggris dengan aksen yang kental dibanding bahasa indonesia. Kalau aku mendengar dia ngomong dalam bahasa inggris tanpa menoleh, aku selalu salah mengiranya sebagai bule.

Aku menjawab mamaku, “Inggrisku memang BELUM terlalu bagus.” (menurut standarku sendiri) *ingat berapa nilai yang kuberi untuk inggrisku?*, makanya aku belajar. Aku ingat guru guru bahasa inggris yang pernah mengajarku mulai dari local speaker sampai native speaker sering berkata bahwa aku belajar dengan cepat dan merupakan salah satu yang terbaik dikelas *gaktau sie guru2 ini basa basi doank atau lebai*.

Tapi aku merasa Inggrisku belum cukup baik, setidaknya untuk konteks mengatur kata kata didalam sebuah kalimat sambil tetap memperhatikan grammarnya. Hal itulah yang mencegahku bicara terlalu banyak dalam bahasa inggris. Sewaktu TK aku tidak ingat kalau aku punya teman karena aku tidak punya topik untuk dibicarakan, setiap hendak membuka mulut aku lebih suka mengatupkannya karena takut salah ngomong. Aku gak brani show off, kecuali didepan keluargaku yang menganggap minum dari gelas di usia kecil sebagai sebuah keberhasilan.

Sewaktu aku naik ke kelas 2,3 SD temanku tidak terlalu banyak, aku ingat aku cuma punya 3 teman baik bernama Sylvia, Simon dan Susanna. Bahasa Indonesiaku cukup kaya dengan kosakata untuk ukuran anak seusiaku, karena banyak membaca komik dan menonton kartun *tetapi belum juga cukup menurut standarku* untuk membuatku benar benar bawel dan punya topik dengan siapa saja. Orang orang tertentu masih mungkin… Kami berempat biasa membicarakan
1, GURU mulai dari guru yang hangat dan baik sampai ke guru yang super menyebalkan,
2, PELAJARAN sekolah mulai dari yang sulit sampai yang mudah termasuk pelajaran yang kami benci teramat sangat kala itu yaitu pelajaran olahraga,
3, kegiatan kami waktu libur sekolah, bener bener gak show off karena memang kita gak jalan jalan keluar negri setiap libur natal – tahun baru – lebaran, seperti anak anak yang lumayan tajir – Sylvia dan Simon anak orang tajir yang humble banget. Mereka gak pernah show off, karena menyadari bahwa teman-teman mereka ini lagi lagi harus memposisikan diri sebagai pengagum dan pendengar lebih daripada ke interaksi kalau mereka mulai membesar-besarkan hal itu setiap hari. Sebuah cerita lengkap selama seminggu pertama setelah liburan sangat cukup untuk membuat yang lainnya ikut merasa bersemangat sambil berharap akan pergi suatu hari nanti.
4, makan siang, beli atau bawa dari rumah. Makan apa hari itu, siapa yang masak, enak atau gak? Kalo gak enak, buang aja ke got trus kita beli yang lain di kantin. Kalo gak bawa uang jajan, pinjam aja besok ganti.
5, jam istirahat, mau berak atau mau ngobrol didalam kelas, atau mau jajan abang abang?
6, orang tua kami, saudara kami. Apakah kami anak tunggal atau punya kakak adik? Jika punya, kami akan bercerita soal tingkah mereka yang menyebalkan. Sangat jarang menemukan cerita yang positif dariku dan Susannah karena kami orang yang negatif kala itu, semua sudut pandangku menunjukkan betapa pahitnya perasaan dan pikiran yang kumiliki. *Jadi ingat Meredith dan Christina – Susannah and Yulianna*
Yeah, Sylvia dan Simon berasal dari keluarga bahagia, lengkap dan menyenangkan. Pertemanan dengan 3S ini membuat balance dalam kehidupanku.
7, teman teman di sekolah yang suka bertingkah, ketua geng yang bernama Susan, kakak kelas yang bentuknya seperti monster, teman sekelas yang pingsan karena sakit ayan.

Bacaanku komik, film kesukaanku saint seiya sementara dua teman baikku itu seperti Barbie yang cantik rupawan. Keduanya menyukai hal hal berbau girlie mulai dari rambut yang dijepit sampai semua aksesoris sekolah berwarna pink. Bahkan teman baikku yang cowo juga memiliki sisi feminin yang menonjol dibanding maskulin.

Dua achievement bagiku ialah saat aku berhasil membuat dua sepupuku percaya bahwa cerita khayalanku itu nyata meski sebenarnya tidak sama sekali.,, dengan uraian kata-kataku. πŸ˜‰

Aku tidak banyak bercanda, lebih ke arah dingin dan serius karena aku tahu aku tidak begitu fasih, bisa-tetapi tidak fasih, membuatku lebih banyak menutup mulut dan hanya membukanya kala terpaksa.

Intinya, aku tidak banyak bicara kalau aku merasa penyusunan kalimatku masih berantakan.. Aku diam tetapi berpikir, disetiap kesempatan percakapan terjadi otakku *berputar* mencari dan menyusun kata kata yang pantas untuk dijadikan kalimat atau komentar. Aku tidak selalu mengeluarkannya jika aku merasa tidak cukup baik, terpaksa mengeluarkannya meski merasa tidak cukup baik karena terkadang kau harus menjawab sesuatu, mengeluarkannya dengan amat sangat ketika merasa kalimat itu sudah bagus.

Naik ke kelas 4 sd, sederet nilai A+ mewarnai raporku. Karena apa? Karena aku pendiam! Guru menyukaimu saat kamu diam, dan tersentuh jika nilai pelajaranmu membuatnya merasa kalau kau benar benar memperhatikannya. Meski sebenarnya pikiranmu menerawang sewaktu ia berceloteh didepan kelas.

Aku membaca semua buku mulai dari kelas 4sd, naik kelas dari komik ke semua novel RL Stine, Sidney Sheldon, Stephen King, Danielle Steel, Enid Blyton, Agatha Christie, Alfred Hitchcok, Barbara Taylor Bradford, Harlequin, de el el.. Semua yang ada di rak buku koleksi ci Jen habis kutelan.

Alkitab, Buku pelajaran bahasa Indonesia, Buku pelajaran matematika, Buku pelajaran bahasa Inggris, Majalah Bobo, AMI, Aneka, Anita, Kawanku, Kartini, Femina.. Semua kulahap habis. Aku membaca bagai robot, meski ada bagian yang tidak kumengerti aku tidak peduli dan terus membacanya.

Aku punya bahan pembicaraan yang banyak, sebagai anak kelas 6sd pengetahuanku cukup luas dan bukan hanya sekadar buku tapi juga film, kehidupan sosial, kriminalitas, bahkan rumah tangga dan seks. Gila kan? Tanpa sadar aku membuang pengetahuan yang bagiku kurang berguna namun penting seperti detil detil geografi dan detil detil science meski aku menghafalnya dengan sangat dari buku pelajaran ketika ujian dan menyimpan yang bagiku cukup berguna. Aku bisa melupakan semua yang kuhafal dan tidak kusukai itu dalam dua minggu, seperti tidak pernah terlintas di otakku.. gak jelas sie gimana.

Dan tiba tiba setahun kemudian dari sederetan nilai rapor A itu, aku langsung mendapat anugrah si pelawak di kelas. Aku bicara banyak, sangat banyak dan saat itulah dimulainya era bicara tanpa berpikir.. Dengan gigi tonggos, kulit putih, badan kurus kering yang kalau disabun dengan sabun batangan akan menimbulkan bunyi klutuk klutuk karena tinggal tulang berbalut kulit, betis kaki besar dengan banyak borok bekas jatuh maupun gigitan nyamuk. Dengan perawakan sudah menjadi lelucon, ditambah guyonan tentu saja menjadi pelawak.

Kembali ke topik awal, aku belajar dan sedang dipersiapkan untuk masuk ke era bisa bicara tanpa berpikir.. Tetapi sebelumnya, aku akan memanfaatkan masa masa ini untuk bicara lebih banyak dan kalau menurutku itu kurang tepat aku bisa bertanya bagaimana cara mengungkapkan yang benar jika moodku sedang tidak malu mode on atau menyimpannya dan mencari dengan kalang kabut kalimat yang tepat sepulangnya nanti.

Aku berharap aku bisa belajar bahasa dengan berani salah besar-besaran seperti orang lain, yang penting berani, salah juga tidak apa-apa karena.. Dengan salah kamu jadi tau apa yang benar. Kadang aku bisa memakai cara itu, tapi aku tahu itu bukan bagianku. Bagianku ialah caraku sendiri yang dengannya aku merasa nyaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s