Wednesday Story

Madie

Madeline menaruh setumpuk lembaran uang ke dalam amplop coklat dan langsung menyisipkannya di tas. Ia senang, karena hari ini gajian dan Ia sungguh tidak sabar untuk segera menabungnya di Bank besok pagi. Malam semakin gelap, tidak semua lampu jalanan menyala dan menyinari jalan sehingga ia semakin mempercepat langkahnya.

Seorang pria keluar dari sudut jalan secepat kilat dan berdiri di hadapannya dengan sebuah pisau kecil, “Berikan seluruh uangmu,”
Madie merasa sangat terkejut, Ia tidak mengerti bagaimana pria ini bisa muncul begitu saja dari antah berantah dan meminta seluruh uangnya. Ia takut, meski itu hanya pisau kecil, sehingga ia membuka tasnya untuk mencari si amplop coklat. Sambil mencarinya, terdengar langkah orang berderap cepat yang tidak dipedulikannya.

Ia menemukannya, Aamplop Coklat itu membelok ke dasar tas dan tertimpa oleh barang-barang lainnya. Ia mengambilnya, menyerahkannya kepada si perampok itu… namun yang muncul justru Tom, adik kembarnya yang sedang tersenyum bahagia.

“Apa yang kaulakukan disini? Mana si perampok itu?” tanya Madeline panik.
“Kalau kau mau, kamu bisa memberikannya padaku.” jawab Tom sambil tersenyum. Madie terkejut melihat sesosok tubuh terjatuh di tanah tepat dibelakang tubuh Tom.
“Kau memukulnya sampai pingsan?”
“Salah, aku memukul wajahnya dengan telapak tanganku, mengambil pisau dan menusuk perutnya,” jawab Tom enteng.
“Apa..?” Madie langsung mendorong kesamping tubuh Tom dan mendapati si perampok sedang meringis kesakitan memegang perut kirinya yang tertusuk pisau kecil.
“Ayo, pergi, kamu jangan sok sok malaikat mau menolongnya,” Tom menarik lengan Madie dengan paksa dan membawanya ke mobil.
“Tapi, dia bisa mati kehabisan darah.” kata Madie.
“Aku pakai sarung tangan kok memegang pisaunya, dan dia tidak sebodoh itu. Itu hanyalah pisau kecil.” tukas Tom.

Mereka berjalan ke mobil dengan Tom terus memegang erat tangan Madie.
“Kenapa kamu menjemputku?” tanya Madie penasaran. Bagaimanapun, sejak Madie memutuskan untuk berpindah jurusan kuliah ke bagian seni sejak setahun lalu, papa mama dan adik kembarnya mengeluarkan aksi diam. Mereka tidak setuju dengan keputusan itu, menyindirnya di berbagai kesempatan dan tidak bicara padanya di banyak kesempatan.

Madie sendiri merasa ia telah begitu lama menjadi seorang gadis penurut tanpa keputusan sendiri. Ia lelah, ia tidak begitu suka dengan kuliah kedokteran yang sedang dijalaninya sekarang, dan sejak remaja ia mengerti betapa darahnya mengalir dengan semangat untuk berakting. Ia mencintai akting, lebih daripada sekedar mementas di sekolah.

Ada harga yang harus dibayar untuk mencapai mimpinya itu, Madie menghentikan kuliah kedokteran yang didapatnya dengan beasiswa, bekerja double shift setiap hari untuk mengumpulkan biaya kuliah yang baru..

“Mama khawatir, bagaimanapun kamu ini masih anaknya.. dan meski ia telah berhenti bicara padamu sejak setahun yang lalu, ia selalu menyuruhku mengawasimu setiap pulang kerja. Hanya baru kali ini saja aku muncul dihadapanmu..”

“Terima kasih.” jawab Madie. Pikirannya menerawang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s