Tuesday My Movie

Black Swan

Darah. Retak. Wajah Natalie Portman yang lugu dan polos didempul dengan bedak tebal dan lipstik merah menyala pada poster yang melekat di berbagai sudut kota. Sebelum menyaksikan film ini, aku sudah mendengar selentingan cerita dari Irene. ‘Jangan kaget, jika melihat kuku lepas ataupun darah mengalir..’ ~ sejenak aku teringat kuku jempol kakiku yang pecah dan harus diangkat karena tertimpa pintu lemari kayu jati. Peristiwa itu mungkin sudah terjadi belasan tahun yang lalu namun bayangannya tidak pernah sirna dari benakku.

Cerita dimulai dengan serombongan gadis berusia diawal 20an yang sedang melatih gerakan balet. Masuklah seorang pria paruh baya kedalam ruangan tari mereka. Seketika latihan mereka dihentikan, semua beranjak ke arah lain di ruangan dan mulai mempraktekkan kemahiran mereka menari. Si pria menepuk pundak beberapa dari mereka sambil lagu terus dimainkan sementara para gadis terus mengulang gerakan balet itu.

Pria berwajah panjang dengan rambut ikal ini mengumumkan pemilihan wajah baru Black Swan ‘Swan Queen’ yang akan segera dilangsungkan dalam waktu dekat karena Beth akan mengundurkan diri, ia meminta setiap balerina yang pundaknya tidak ditepuk untuk mengikuti audisi. Kenyataannya, penjualan tiket menurun drastis dalam beberapa bulan terakhir, Beth si Bintang Utama Swan Lake dipaksa mengundurkan diri karena sudah terlalu lama menguasai posisi Black Swan. Perusahaan menganggap penonton mulai merasa bosan.

Nina seorang perfeksionis yang selalu merasa terancam dan mudah ditekan, sehingga dengan mudah Veronica, saingannya, menyulut emosinya. Ia masuk dalam hitungan audisi namun gagal dalam audisi tersebut, karena tidak menampilkan emosi dan mengeluarkan sisi menggoda black swan dalam tariannya.

Banyak gambar menampilkan kegiatan sehari hari balerina di film ini, yang tidak nampak di kehidupan kita pada umumnya seperti menjahit sepatu balet dengan benang, menginjakkan sepatu balet di pecahan kaca supaya tidak licin, dan masih banyak lagi.

Nina merasa sedih dengan kegagalan dalam audisi tersebut, dan itu sangat menekannya. Ia menggaruk punggungnya sendiri hingga berdarah dan tidak menyadarinya. Didalam kesadarannya, punggungnya sobek dan terus mengeluarkan darah.

Nina tidak punya siapapun selain mamanya. Tidak ada kakak maupun adik. Tidak juga pacar. Tidak juga teman. Sepanjang hidupnya, Ia menjalaninya sebagai anak baik penurut dengan musik box pengiring tidur.

Keesokan harinya, ia mendatangi David, pria berwajah panjang yang adalah bosnya dan meminta kesempatan kedua. David menolak dengan mengatakan Veronica telah memenangkan peran tersebut Black Swan. Nina menyerah, David bertanya, ‘Hanya sampai disitu usahamu untuk mengubah pikiranku?’ lalu menciumnya dengan paksa. Nina terkejut dan menggigitnya lalu kemudian lari.

Ternyata, justru itulah yang membuat Nina terpilih. Veronica bertambah benci pada Nina, karena sebelum pengumuman pemilihan tersebut dipasang Nina menyelamatinya atas peran Black Swan.

Gagal menjiwai Black Swan membuat Nina stress, ia tidak tahu apalagi yang harus dilakukannya. Ia terpukau dengan tarian menggoda Lily, balerina yang baru saja pindah ke kota mereka. Dengan dua buah tato bergambar sayap di belakang punggungnya, Lily memang punya pesona itu.

Beth memaki Nina karena mencuri perannya, dan pulang tertabrak hingga kakinya kehilangan fungsi.

Di malam yang sama David menyuruh Nina menyentuh tubuhnya sendiri, karena ia sudah mulai terlalu polos dan lugu. Nina menuruti ide tersebut, ia bermasturbasi dan melompat terkejut ketika melihat ibunya sedang tertidur di kursi samping ranjang tidurnya.

Mulai saat itu Nina memberontak, mengunci pintu kamarnya, bahkan mabuk dan melakukan hubungan seks dengan dua pria sekaligus di satu malam. Tentu saja, Lily turut andil dalam perilaku Nina yang tidak biasa itu.

Di malam yang sama, Nina juga melakukan seks dengan Lily. Bagian ini hanya mimpi. Namun Nina menganggapnya kenyataan, ia terlambat bangun untuk latihan dan menyalahkan Lily. Nyatanya Lily sudah ada di ruang latihan dengan wajah segar dan tariannya yang ekstra semangat.

Lama kelamaan, David merasa puas dengan tarian Nina terutama di malam gladi resik.
Nina sendiri merasa kesal karena Lily menjadi orang kedua yang akan memainkan Black Swan jika Nina tidak muncul.

Sepulang latihan Nina begitu emosional, mendengar suara suara menakutkan, mendapati kukunya berdarah berulang kali dan melihat lukisan ibunya berteriak dan menangis.

Dengan emosi, ia merobek semua lukisan ibunya dan berpaling melihat punggungnya kembali berdarah. Kakinya mematah seperti orang sakit polio dan ia jatuh terpentok tepi ranjang, pingsan. Ibunya mengangkatnya ke ranjang.

Sewaktu Nina sadar keesokan paginya, ia sudah hampir terlambat dan marah pada ibunya yang mengamatinya tidur tanpa membangunkannya. Ibunya merasa balet telah menjadikan Nina hidup diluar kesadarannya.

Nina mengamuk dan berlari menuju ruang pentas, melihat wajahnya di halaman depan… Dan langsung merias diri. David sedikit terkejut, namun membiarkannya bersiap siap. Nina masuk ke panggung, dan menari White Swan dengan indahnya sampai ia terjatuh dari panggung karena lawan mainnya tidak meletakannya dengan sempurna.

Ia marah, dan didalam bayangannya Lily telah menggoda lawan mainnya di panggung supaya ia menjatuhkan Nina. Nina kembali ke ruangannya, merasa marah dan emosi, ditambah melihat Lily dengan pakaian black swan tersenyum di meja riasnya.

‘Aku lebih pantas memerankan Black swan,’ katanya. Nina merasa panas, mendorong Lily ke kaca dan menusuknya dengan pecahan kaca. Lily tak lagi bernafas, saat itu juga. Nina merasa panik, dan terburu buru ia menarik mayat lily kedalam kamar mandi pribadinya.

Dengan dandanan mata super gothic, ia menarikan Black swan dengan indahnya diatas panggung. Tariannya memukau dan mengundang riuh tepuk tangan paling meriah. Ia tersenyum, meski hatinya tidak tenang mengingat mayat Lily masih berkubang di kamar mandinya.

Ia terburu buru kembali ke meja rias, dan merasa terkejut saat Lily menyelamatinya untuk tarian black swan yang begitu indah. Ia mencoba mengingat kembali, bahwa ia telah membunuh Lily di kamar riasnya dan menyembunyikan mayatnya di kamar mandi.

Ia membanting pintu dengan panik, membuka kamar mandinya dan melihatnya kosong, mengarahkan wajahnya ke kaca yang pecah dan melihat darah disana. Ia menyadari ada yang tidak beres, dan sewaktu ia memegang perutnya, ia menemukan serpihan kaca dan darah. Ia telah menusuk dirinya sendiri.

Pintunya diketuk, ia panik karena ia harus memerankan babak terakhir swan lake sebagai white swan yang bunuh diri. Ia mengganti pakaiannya, menahan rasa sakit di perutnya dan kembali ke panggung.

Ia menarikan white swan dengan penuh totalitas, sejenak ia melihat wajah ibunya di deretan kursi penonton. Adegan bunuh diri dengan sempurna dilakoninya, ia melempar dirinya ke bawah dari atas tangga di panggung dan cairan merah mengalir deras dari perutnya, membasahi pakaian white swannya yang putih bersih.

Ia senang telah melakukannya dengan sempurna, meski itu berarti akhir dari hidupnya.

Advertisements

One thought on “Black Swan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s