Tuesday My Movie

Source Code

Stevens ( Jake Gyllenhaal) terbangun, dan menatap wajah seorang wanita (Michelle Monaghan) yang asing baginya sedang tersenyum. Wanita itu berkata, “Aku sudah memikirkan apa yang kau katakan….”

Stevens tidak mengerti apa yang sedang dikatakan wanita muda cantik dihadapannya yang sepertinya tidak pernah dijumpainya. Ia berkata, bahwa wanita itu sepertinya salah orang yang disambut dengan mimik bingung wanita tersebut. Ia sedang berada didalam sebuah kereta, sementara petugas datang memeriksa karcisnya dan seorang wanita tua yang sedang lewat tidak sengaja menumpahkan kopi disepatu Stevens.

Sebuah ponsel berdering, wanita muda dihadapannya itu meraih ponselnya dan mengerenyit kesal. “Ia meneleponku jauh lebih banyak sekarang dibanding ketika kami masih bersama.” Stevens berkata, “Maaf aku tidak mengenalmu.” lalu beranjak bangun.

Kereta berhenti di Chicago, Stevens sempat turun dan keluar dari kereta. Ia memandang orang-orang di sekelilingnya dan merasa bingung dengan keberadaannya ditempat itu. Ia mengamati penumpang-penumpang lainnya, mulai dari seorang India bertubuh besar dengan baju baseball, seorang pemuda nerd dengan komputer dihadapannya, sepasang suami istri yang sedang berargumen, seorang pemuda kurus tinggi yang sedang mengambil dompet seorang pria yang lain yang terjatuh di kereta.

Sebelum kereta hendak melanjutkan perjalanannya, Stevens kembali naik dan berjalan masuk ke kamar mandi. Betapa terkejutnya ia saat melihat ke cermin dan mendapati bahwa wajah dan tubuhnya merupakah sosok yang sama sekali tidak dikenalnya. Ia panik lalu membuka pintu toilet. Wanita muda yang tadi duduk dihadapannya sedang berdiri didepan toilet dengan wajah prihatin dan khawatir memandang Stevens.

Belum sempat mengucapkan berpatah kata, sebuah bom meledak dari arah kamar mandi dan membunuh mereka semua.

***

Stevens terbangun di sebuah ruangan gelap, dengan tali tali kabel mengikat tubuhnya. Sebuah layar tv kecil yang buram berada dihadapannya. Seorang wanita (Vera Farmiga) dengan rambut pirang disanggul dan mata biru menatapnya dan memanggilnya.

Ia bertanya pada Stevens “Apakah kau telah menemukan bomnya?” Stevens berusaha mengingat ingat apa maksud dari pertanyaan tersebut serta siapa wanita asing yang sedang berbicara lewat layar itu. Dan apakah yang tadi dialaminya hanyalah sebuah mimpi?

Stevens terus bertanya, mengapa ia bisa berada diruangan gelap dan terikat dengan tali-tali kabel, dan mengapa ia sendirian? Ia juga mengkhawatirkan para tentara bawahannya, ia mengingat dirinya sebagai seorang kapten di ketentaraan yang sedang dikirim ke Afganistan.

Wanita di layar menolak untuk bicara banyak, dan meminta Stevens kembali ke dalam kereta untuk menemukan bom sekaligus pelaku pengeboman dalam waktu 8 menit.

***

Stevens terbangun dan menatap wajah seorang wanita yang sama dengan mimpi sebelumnya sedang tersenyum. Wanita itu berkata, “Aku sudah memikirkan apa yang kau katakan….” Stevens tetap tidak mengerti apa yang sedang dikatakan wanita muda cantik dihadapannya yang sudah dijumpainya untuk kedua kalinya. Ia hanya tersenyum lalu menoleh ke sekeliling. Ia sedang berada didalam sebuah kereta, sementara petugas datang memeriksa karcisnya dan seorang wanita tua yang sedang lewat tidak sengaja menumpahkan kopi disepatu Stevens.

Stevens terkagum dengan kesamaan setiap hal yang terjadi dengan begitu detailnya, hanya kali ini ia sudah bisa menebaknya. Sebuah ponsel berdering, wanita muda dihadapannya itu meraih ponselnya dan mengerenyit kesal. “Ia meneleponku jauh lebih banyak sekarang dibanding ketika kami masih bersama.” Stevens hanya tersenyum karena masih tidak dapat mengerti siapa wanita ini dan apa hubungan si pemilik tubuh dengan dirinya.

Kereta berhenti di Chicago. Sementara sebagian penumpang turun, Stevens berusaha mencari bom yang disebut sebut oleh si wanita pirang bermata biru dari layar. Ia mengamati dengan seksama tas-tas juga orang-orang yang hadir di pemandangan sama di mimpi sebelumnya. Ia mengamati penumpang-penumpang lainnya, mulai dari seorang India bertubuh besar dengan baju baseball, seorang pemuda nerd dengan komputer dihadapannya, sepasang suami istri yang sedang berargumen, seorang pemuda kurus tinggi yang sedang mengambil dompet seorang pria yang lain yang terjatuh di kereta.

Ia berjalan ke kamar mandi mengingat bomnya meledak dari sana. Ia mencoba memeriksa berbagai tempat, dan mendapati bahwa atap kamar mandi sedikit terbuka, dan betapa terkejutnya ia mendapati bom raksasa berada disana.

Lagi-lagi bom itu meledak tanpa dapat dihentikan dan Stevens kembali ke ruang gelap dengan tali tali kabel disekelilingnya.

Wanita berambut pirang yang duduk dihadapan layar masih duduk dengan pakaian kerja yang sama, rambut tertata dan mimik yang serius. Stevens langsung kembali memberondongnya dengan pertanyaan mengenai ayahnya, masa lalunya dan bagaimana ia bisa sampai disana namun wanita itu hanya kembali bertanya soal bom. Stevens berkata ia telah menemukan bomnya tapi tidak pelakunya.

Wanita itu bernama Goodwin. Goodwin meminta Stevens untuk kembali ke masa tersebut dan menemukan pelakunya dalam 8 menit karena bahaya ancaman bom yang kedua kalinya sangat mungkin terjadi di hari yang sama. Goodwin dengan singkat mengatakan bahwa kereta yang dinaiki Stevens bersama dengan wanita muda dihadapannya yang bernama Christina, meledak tadi pagi. Si pelaku mungkin merencanakan pengeboman untuk perjalanan kereta berikutnya sehingga Stevens harus berhasil menemukan pelakunya supaya ia bisa diringkus.

Stevens tidak mengerti dan merasa kesal karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sendiri.

***

Stevens terbangun dan menatap wajah seorang wanita yang sama dengan mimpi sebelumnya sedang tersenyum. Wanita itu berkata, “Aku sudah memikirkan apa yang kau katakan….” Stevens hanya tersenyum, lalu mengeluarkan karcis sebelum petugas datang memeriksa dan memperingatkan seorang wanita tua yang sedang lewat untuk hati hati dengan kopinya.

Wanita dihadapannya, Christina, merasa kagum dengan tebakan Stevens yang tepat sasaran. Stevens mulai merasa dengan kesamaan setiap hal yang terjadi dengan begitu detailnya. Sebuah ponsel berdering, dan Stevens meminta Christina untuk tidak memperdulikan telepon tersebut.

Kereta berhenti di Chicago. Sementara sebagian penumpang turun, Stevens berusaha mencari pelaku pengeboman yang disebut sebut oleh si wanita pirang bermata biru dari layar. Ia mengamati dengan seksama orang-orang yang hadir di pemandangan sama di mimpi sebelumnya.

Ia sedikit terkejut dengan seorang pria India berkacamata yang lolos dari pandangannya selama 2 mimpi sebelumnya, keluar dari toilet. Pria ini gugup dan tangannya terus bergetar. Stevens meminta Christina untuk turun bersamanya di Chicago yang direspon dengan pandangan tidak setuju. Ia mencium bibir Christina, dan akhirnya mereka turun bersama.

Stevens meminta Christina untuk duduk diruang tunggu stasiun sementara ia sibuk mengikuti si pria India yang gugup itu.
Ia melempar keluar isi tas pria gugup itu setelah dengan paksa merebutnya. Tak didapati remote bom disana, hanya buku-buku. Si pria gugup marah-marah dan Christina mendatangi Stevens.

***

Kejadian terus berulang sementara Stevens belum berhasil menemukan pelakunya.

Ia kembali bangun dengan Christina yang sedang duduk dihadapannya dan berkata, “Aku sudah memikirkan apa yang kau katakan….”

Stevens merasa curiga dengan seorang pria yang memeluk tas besar, ia merebutnya dan membuang seluruh isinya ke lantai. Semua penumpang merasa takut namun tidak berani bertindak dan hanya mencaci. Namun tidak ada bom yang ditemukan disana, sehingga
ia merasa tidak enak hati namun tidak juga meminta maaf pada pria tersebut.

Ia kembali bangun dengan Christina yang sedang duduk dihadapannya dan berkata, “Aku sudah memikirkan apa yang kau katakan….”

Stevens merasa curiga dengan seorang pria yang terus bermain handphone dan laptop lalu merebutnya dan meminta orang tersebut mengeluarkan remote bom. Pria itu sedang bekerja dan merasa marah dengan tingkah Stevens.

Ia kembali bangun dengan Christina yang sedang duduk dihadapannya dan berkata, “Aku sudah memikirkan apa yang kau katakan….”

Stevens terus berulah dan kejadian ia dikirim kembali telah berlalu berulang kali. Goodwin mulai panik karena sore sudah akan segera tiba.

Diam-diam Stevens mulai menyukai Christina, mengambil satu kesempatan untuk menelepon ayahnya dan meminta maaf atas kesalahan Stevens selama hidupnya dengan mengaku sebagai Sean, teman baik Stevens.

Stevens berhasil menemukan pelakunya setelah kesekian kalinya melabrak orang yang dicurigainya. Seorang pria bertubuh agak gempal dengan rambut dibelah dua, yang turun di Chicago, bertindak mencurigakan dengan melempar dompetnya yang tadi terjatuh dan dikembalikan orang, kedalam lorong kereta. Ia berjalan ke arah mobil van putih.

Stevens melabraknya dan dihantam dengan kuat oleh si pria yang bernama Derek Frost ini (Stevens sempat melihat kartu pengenal di dompetnya sebelum melabrak pria itu). Kereta tetap meledak, namun demikian ia telah menemukan pelakunya dan Goodwin menyambut berita itu dengan sukacita.

Semuanya menjadi jelas. Derek Frost ialah pria yang berusaha mengubah dunia yang penuh kejahatan ini dengan berencana membunuh semua orang didalamnya, tanpa menyadari bahwa sikapnya itu menjadikan ia psikopat yang lebih jahat. Stevens mempunyai ide untuk kembali dan memberi pelajaran pada Derek. Dr Rutledge, atasan Goodwin menolak ide tersebut dan melarang Stevens kembali karena 8 menit itu hanyalah merupakan ilusi dan tidak dapat mengubah kenyataan yang sebenarnya. Apa yang ia kerjakan disana, tidak akan mengubah kenyataan yang sebenarnya.

Stevens memohon untuk satu kali kesempatan kembali, dan mengingatkan janji agar ia diizinkan meninggal dengan tenang karena misinya telah selesai. Telah jelas baginya bahwa ia memang telah meninggal dalam perang di Afganistan. Program yang diciptakan Dr Rutledge memampukan otaknya yang masih bekerja untuk bisa menjalankan misi dan masuk kedalam tubuh Sean yang sedang tertidur sepanjang perjalanan.

Namun ia merasa letih dan ia merasa telah melakukan hal-hal yang perlu dilakukannya untuk bisa pergi dengan tenang. Dibaliknya, Dr Rutledge hendak mengingkari janjinya dan meminta Goodwin untuk mereset memory Stevens. Goodwin tidak setuju dengan hal itu namun tidak berani membantah. Diam diam ia memencet tombol dan membawa Stevens kembali dalam perjalannya di kereta.

Delapan menit terakhir ini menjadi delapan menit yang penuh, ia mengunci Derek Frost didalam kereta, mengambil 2 ponsel yang menempel di bom dan membuangnya ke bawah. Ia juga menantang pria india dengan baju baseball untuk membuat lelucon dengan bayaran 130 Dollar. Setelah itu, ia mengirimkan email kepada Goodwin via ponsel dan menggandeng tangan Christina. Didalam mimpi itu, Sean alias Stevens tidak hanya punya delapan menit, ia punya lebih dari itu dan sangat menikmatinya bersama Christina.

***

Keesokan paginya sesampainya di kantor, Goodwin menyalakan ponsel dan terkejut mendapati email masuk yang berasal dari Stevens.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s