Sunday Service

Jangan Terperangkap di dalam Gelembung (Surround, Don’t Get Stuck in the Bubble)

Dari sederetan kotbah seri Surround yang disampaikan Ps Steven Furtick pada akhir 2014 lalu, ini merupakan salah satu kotbah favorit saya. Ternyata cerita 5 Roti & 2 Ikan yang populer itu bukan hanya menceritakan mujizat yang Tuhan Yesus lakukan. 🙂 Berikut adalah terjemahannya:

Markus 6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.
Saya mencoba membayangkan murid-murid Tuhan Yesus hidup di zaman ini. Mereka mengirimkan pesan melalui ponsel mereka kepada Tuhan Yesus, dan berkomunikasi lewat pesan seharian dengan Yesus. Mereka bertukar pesan sepanjang hari.

Bagi saya, percakapan yang terjadi lewat pesan bukan merupakan komunikasi yang sebenarnya. Kadang kita menjadi gugup saat pesan itu dibalas dengan deringan telepon. Karena dengan menjawab telepon, kamu tidak bisa menggunakan tombol backspace ataupun edit yang biasanya kamu gunakan untuk merubah apa yang telah diketik.

Sekarang ini, saya merasa diawasi jika saya sudah membaca pesan dari lawan bicara dan belum juga mengirimkan balasan. Lawan bicara menunggu saya membalas, padahal saya mungkin belum ingin mengirimkan balasannya sekarang. Tetapi dari sana Ia melihat status saya sedang mengetik ‘typing’ dan ia menunggu.

Saat lawan bicara menunggu saya membalas pesannya, saya teringat betapa kita pun bersikap demikian terhadap Tuhan. Di zaman yang serba instan ini, kita menunggu Tuhan menjawab kita saat itu juga. Kita tahu Tuhan sedang ‘mengetik’ jawabanNya atau jalan keluarNya atas permasalahan kita, dan kita menunggu dengan gelisah sambil mata kita terus melihatNya ‘Typing’.

Kita mau percaya pada Tuhan, tapi kita tidak tahu apa jawabanNya.
Semua orang berkata pada kita untuk menantikan Tuhan; tetapi menunggu sungguh membuat frustasi.
Apalagi di zaman sekarang, mendapatkan informasi itu mudah dan cepat.
Jarak antara ketika kamu mengirimkan pesan dan seseorang mengirimkan balasan yang disebut Menunggu itu…. tidak nyaman.
Kebanyakan dari kita sudah terperangkap dalam gelembung kenyamanan.

(Markus 6:31b) Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempatMurid murid Yesus kala itu juga sudah tidak nyaman menunggu karena perut mereka sudah lapar (Markus 6:36) Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.

Tuhan tidak berkewajiban memberitahumu semua detil jawaban dan jalan keluar yang Dia punya untukmu. Sebagian dari kita sudah terperangkap dalam gelembung kepastian. Kita meminta kepastian kepada Tuhan, sementara Tuhan menantang kita untuk tetap percaya meski tidak melihat kepastian itu.

Lamott pernah berkata, “Lawan dari Iman bukanlah keraguan. Lawan dari iman adalah kepastian.” Keraguan justru seringkali merupakan pintu yang membuka imanmu. Ketidak sempurnaan itu sebetulnya adalah sebuah hadiah.

Saat kamu bertemu seseorang yang berkata, “Aku tidak begitu yakin. Hanya aku belajar/memutuskan untuk tetap percaya kepada Tuhan..” Itu yang namanya iman seorang anak kecil.

Ketika kamu bertemu seseorang yang belum melihat solusinya didepan mata, namun tetap mencoba hidup dengan iman kepada Tuhan yang adalah solusinya.

Ketika seseorang sudah memahami solusinya, ia cenderung mengeluarkan faktor Tuhan dari kondisi hidupnya tersebut (If You already figure it out, You factor God out).

Jadi jangan kaget jika gelembung kepastian itu dibiarkan Tuhan pecah. Jangan terkejut jika tekanan dibiarkan muncul didalam hidupmu dan kamu terus berkata,
“..saya selalu berpikir bahwa saya sudah memahaminya,..”
“.. saya berpikir bahwa rencana saya yang ini dan itu sudah cukup baik..”
“ saya menyangka bahwa saya sudah cukup mandiri.. dan.. saya berpikir bahwa jika saya melakukan A maka mendapatkan hasil B itu sudah pasti,.. tapi sekarang..”

Tiba tiba saja gelembung kepastian itu dibiarkan pecah sehingga saya tidak lagi memiliki kepastian. Tetapi saya tetap memiliki keyakinan/kepercayaan.

Keyakinan adalah ketika kamu menaruh imanmu kepada Sesuatu yang ada diluar dirimu, karena kamu tidak punya jaminan kepastian namun kamu memiliki Tuhan, jadi kamu yakin akan tetap melihat kebaikan Tuhan dalam melewati masalah ini.

Sementara Kepastian adalah karena kamu sudah pernah mengalaminya; atau kamu punya pengalaman yang cukup; atau kamu punya pengetahuan yang cukup; kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dan jadinya kamu menaruh imanmu kepada dirimu sendiri. Lalu kamu bergantung pada apa yang kamu lakukan, yang dengan kata lain adalah kekuatanmu sendiri.

Tuhan seringkali menghilangkan kepastian, dan bertahta dalam ketidakpastian. Karena dalam ketidakpastian itu, kamu mengangkat tanganmu kepada Tuhan. (Posisi menyembah) Dengan tangan yang terbuka, lalu hati yang terbuka.

Gelembung Kepastian & Gelembung Kenyamanan – Tamat.

Yohanes 5:5-6 Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.
Saat membaca dua ayat ini, apakah kamu pernah berpikir kenapa Yesus tidak bisa membungkus makanan untuk mereka dari awal? Apa kamu berpikir kalau IA kelupaan? Apa kamu pernah berpikir kenapa Dia tidak menurunkan makanannya dari langit?

Tapi bukan itu poinnya.

IA ingin melihat bahwa kita tetap memiliki keyakinan terhadapNya bahkan ketika ketidakpastian melanda situasi yang kita hadapi. IA bertanya kepada murid-muridNya untuk mengetahui apa mereka akan tetap memilih untuk yakin kepada Tuhan meski situasinya tidak pasti.

Dengan kata lain, Tuhan mengacaukan logika kita. Kenapa IA mengacaukan logika kita?
Karena IA mau mengambil kepastian itu.

Karena lawan dari iman adalah, sudah memiliki kepastian akan semuanya.
Iman adalah sejenis kesabaran yang misterius, kita tidak bisa menjadikannya rumus. Memang pada umumnya tentu saja kita menginginkan sesuatu yang rasional, yang sesuai logika, dan bisa diperhitungkan. Satu lagi gelembung yang kita terperangkap didalamnya, gelembung perhitungan.

***

Saya ingin mengingatkan kita semua untuk berdoa meminta Tuhan mengisi hati kita dengan belas kasihan (terhadap sesama); sementara dunia ini berubah menjadi penuh tekanan untuk menyelesaikan sederetan tugas dan pekerjaan dengan cepat.

***

Kita tidak bisa menggunakan tombol tambah dan tombol kurang seperti yang biasanya digunakan oleh orang-orang percaya yang terperangkap dalam gelombang perhitungan, Karena Tuhan seringkali menggunakan tombol kali. Contohnya, saat kamu menggunakan sebagian uangmu untuk memberkati orang lain, kamu justru tidak pernah berkekurangan dan akhirnya malah bisa berlebihan (ada pelipatgandaan yang terjadi).

Anak kecil yang membawa 5 roti & 2 ikan ini mendapati beberapa bakul tersisa setelah digunakan untuk memberi makan ribuan orang.

Jadi saudara-saudaraku, jangan terperangkap dalam gelembung,

  • Tuhan akan melakukan mujizat dalam hidupmu.
  • Ia mau kamu tetap memilih untuk percaya meski itu tidak pasti.
  • Ia mau kamu mengangkat tanganmu padaNya.
  • Ketika Ia menaruh sesuatu di hatimu, lakukanlah dan jangan diam.
Advertisements

2 thoughts on “Jangan Terperangkap di dalam Gelembung (Surround, Don’t Get Stuck in the Bubble)

  1. Read this quote from Bono:
    Stop asking God to bless what you’re doing, Bono. Find out what God is doing, cause It’s already blessed.
    When you align yourself with God’s purpose as described in the scriptures, something special happens to your life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s