Sunday Service

Mengupas Ibrani 6

Ps Prince memulai kotbahnya dengan mengatakan bahwa kedepannya ia mungkin akan menyampaikan hal yang berbeda di kebaktian pertama, kebaktian kedua dan bahkan mungkin kebaktian ketiga. Karena terlalu banyak hal yang hendak disampaikannya, sementara waktunya terlalu sedikit. Berikut adalah kotbah yang disampaikannya pada kebaktian pertama di hari minggu kemarin (8 February 2015, Judul akan diupdate belakangan):

Part 1

Hukum taurat menuntut kebenaran dari hidup kita, sementara Kasih Karunia mengisi hidup kita dengan kebenaran.
Tuhan Yesus mengambil tempat kita (kesalahan kita), dan kebenaranNya diberikan bagi kita yang menerimaNya.
Bapa menoleh ke arah Yesus yang telah mengambil semua dosa kita sewaktu IA tergantung di kayu salib.
Kemudian Bapa menoleh ke arah sebaliknya dan melihat kita dibenarkan didalam Kristus.

Roh Kudus ialah saksi kalau semua dosa kita telah ditanggung oleh Yesus. Tuhan tidak lagi mengingat ingat kesalahan kita.

Bahkan sebagai orang percaya, tidak dipungkiri bahwa kita tidak sempurna dan masih mungkin berbuat kesalahan entah dengan pikiran, perasaan atau perbuatan, disengaja ataupun tidak. Pengorbanan Yesus adalah korban penebus dosa yang paling sempurna. Dosa keturunan pun tidak lagi mengambil bagian dalam kehidupan kita setelah karya penebusan Yesus di kayu salib.

Kasih karunia berarti Tuhan memberkatimu, Ia yang berusaha untuk mendekat kepadamu dan meraihmu meskipun kamu tidak pernah memintanya.

Beberapa orang Israel dihukum karena melanggar hari sabat dengan mengumpulkan kayu api, di kitab Bilangan 15. Saat saya membacanya kembali, Tuhan membuka pikiran saya dan berkata bahwa bukan hanya melanggar hari sabat, mereka (orang israel) menolak untuk beristirahat dan tinggal tenang saat Tuhan menyuruh mereka demikian.

Part 2

Ketika kita berkata bahwa ‘kita dibenarkan oleh Kristus’, ada kalanya kita tidak merasakan apa yang kita katakan itu. Namun kita tidak dapat menuruti apa yang kita rasakan.

Bukannya saya menyuruh anda berpura-pura menjadi orang lain, tetapi karena identitas kita didalam Kristus melahirkan kebiasaan yang baru; diantaranya adalah berjalan bersama Tuhan, percaya kepada Tuhan dan apa yang difirmankan, memuji Tuhan…

Semua mujizat yang dilakukan Elia dan Elisha adalah karena Roh Tuhan ada diatas mereka. Tetapi sekarang Roh Kudus itu ada didalam kita, bukan lagi diatas kita. Saat ini, kita berada dalam posisi paling dekat dengan Tuhan. Kita punya Roh Kudus, Tuhan sendiri didalam kita.

Part 3

Saya akan membahas lebih detil Kitab Ibrani 6:1-20.

Ibrani 6:1-3

Didalam perjanjian lama, agama Yudaisme merupakan agama yang dianut orang Yahudi. Setelah kedatangan Yesus dan karya salibNya, agama Yudaisme itu tidak lagi dipegang traidisinya oleh semua orang yang percaya. Dikatakan disana, kalau Yudaisme itu adalah sekolah dasar dari pengenalan akan Tuhan. Yudaisme mengajar soal pertobatan (‘jangan’ dan ‘jangan’) & iman terhadap Jehovah (Allah).

Apa artinya sekolah dasar? Contohnya, kalau kamu datang ke rumah saya dan saya berkata kepadamu, “jangan sentuh kompor ya kalau ke dapur ya!”, “jangan lupa cuci tangan sebelum ini itu” dan lain lain; saya memperlakukan kamu sebagai anak-anak.

Perjanjian baru membawa posisi kita sebagai anak Tuhan. Kita sudah naik ke kelas yang lebih tinggi, kita belajar soal pertobatan (keselamatan kita berasal dari pengorbanan Yesus, pikiran kita diubahkan oleh Kristus) & iman terhadap Yesus Kristus. Ia bukan hanya El Shaddai, Ia adalah Bapa. Kesempurnaan (Yesus) itu sudah datang, tetapi orang Yahudi masih menghidupi kehidupan seakan kesempurnaan (Yesus) itu belum datang.

Part 4

(Ibrani 6:4-6)ย Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Berbicara soal orang-orang yang datang ke gereja, mendapat pencerahan soal Tuhan, tetapi tidak diselamatkan? Ada.
Contohnya, Yudas Iskariot. Ia merupakan salah satu dari dua belas murid Yesus. Ia mendapatkan pencerahan tentang Yesus, tentang mujizatNya, tentang kuasaNya, tentang diriNya. Bayangkan saja, Ia mendengar kotbah langsung dari Yesus! Ia mendapatkan sentuhan langsung ke dalamย kisah penyembuhan, pengusiran setan, dan lain sebagainya. Ia mencicipi Yesus namun tidak minum daripadaNya.

Tahukah kamu kalau kamu bisa mencicip tanpa meminumnya? Kata “mengecap” ini juga digunakan dalam ayat berikut
(Matius 27:34) Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.

Saya teringat pada masa remaja saya, bagaimana saya diliputi ketakutan bahwa saya mungkin pernah melakukan apa yang dikatakan dalam Ibrani 6:4-6 didalam perjalanan saya menjadi orang kristen ditambah mendukakan Roh Kudus. Mungkin saja saya pernah kan? Dengan penuh kesedihan, saya berjalan ke Orchard dan bersaksi tentang Yesus di jalanan. Dasar saya bersaksi adalah berharap bahwa mereka yang bertobat lewat kesaksian saya, akan mengingat saya ketika mereka masuk kedalam sorga sementara saya sendiri berakhir di neraka.

Ketika saya menghabiskan waktu berpikir untuk tidak berdosa, saya justru lebih jatuh kedalam dosa. Depresi rasanya, sampai saya menemukan pesan kasih karunia.
Pesan kasih karunia membuat kita memusatkan pikiran kepada Tuhan, bukan kepada diri sendiri; bagaimana supaya kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Mengarahkan pandangan kepada Tuhan mengubah pikiran kita, sehingga perbuatan kita juga ikut berubah saat pikiran itu berubah.

Saya : “Saya dibenarkan didalam Tuhan.”
Orang-Orang : “memangnya kamu pikir kamu itu siapa?”
Saya : “Saya tidak berpikir tentang diri saya sendiri. Identitas saya ditemukan didalam Kristus.”

Karena kasih karuniaNya, Yesus telah mengecap kematian itu untuk kita.
Lewat kematianNya, Ia memberikan kita kemenangan. Kita tidak perlu mengecap kematian itu karena Yesus telah mengecapnya bagi kita.
Sekarang yang kita kecap adalah hadiah sorgawi, kasih karunia Tuhan.

Kata ‘mendapat bagian’ dalam Ibrani 6:4 itu sendiri berasal dari kata ‘teman-temannya’ seperti yang tertulis dalam ayat berikut
(Lukas 5:7) Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

Tuhan akan melimpahkan berkatNya untukmu. Bahkan orang-orang disekitarmu juga akan mengalami kelimpahan karena membantumu.

Part 5

(Ibrani 6:7-8)
Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran.

Air Hujan ini menggambarkan seorang guru yang terus memberikan murid-muridnya pengertian tentang Firman Tuhan.
Isi terus diri kita dengan Air Hujan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna.

Part 6

Ibrani 6:9-10
Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.

‘Saudara kekasih’ disini ialah memanggil kamu dan saya.
Ketika kita kembali ke Ibrani 6:4-6, penulis berbicara tentang mereka (orang ketiga), bukan kalian (anda dan saya). Didalam sebuah surat itu, penulis berbicara mengenai dua kelompok orang (mereka dan kalian). Baca lagi dan anda akan mendapat penerangan setelah mengetahui ada dua kelompok orang berbeda waktu surat ini ditujukan (mereka: orang yahudi, kalian: anda dan saya).

Tuhan berjanji dan Ia akan menepatinya. Kalau Tuhan tidak menepatinya, maka IA bersalah.

Part 7

Ibrani 6:11-12 Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.

Kalau kamu sudah memiliki iman, bagus sekali. Membaca ayat tersebut diatas, mari tambahkan “iman” ini dengan atribut lain seperti “kesabaran” dan “kesungguhan yang sama/semangat yang sama” dan “jangan lamban alias jangan malas”.

Part 8

Mari kita berlanjut ke Ibrani 6:14-17

Ketika Tuhan berjanji kepada Abraham, Ia bersumpah untuk diriNya sendiri. Karena tidak ada yang lebih besar daripadaNya.
Minggu ini biarlah pengharapanmu menjadi penuh.

Allah mau menegaskan kepada orang-orang yang menerima janji-Nya, bahwa Ia tidak akan merubah janji-Nya. Itulah sebabnya Ia menambah sumpah pada janji-Nya itu.
Sekarang semua bergantung kepadaNya. IA berjanji padamu, sehingga hal itu tergantung padaNya. Ia yang akan memenuhi janjiNya kepadamu, apapaun kondisimu sekarang. Tuhan tidak berjanji karena Ia merupakan pribadi sering melanggar janji, Ia berjanji untuk meyakinkan kamu kalau Ia akan melakukannya.

(Ibrani 6:18) Dua hal itu tidak dapat berubah: Allah tidak mungkin berdusta mengenai janji dan sumpah-Nya.

Dan Tuhan tidak berdusta.

Part 9

Ibrani 6:20ย di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.

Musa adalah hamba, hukum taurat datang lewat dirinya. Yesus adalah Anak, kasih karunia itu datang lewat diriNya.
Harun menggambarkan imam besar pada masa sebelum salib, dimana imam besar menentukan jika bangsa tersebut diterima atau ditolak Tuhan.
Tidak dapat disangkal kalau Yesus adalah imam yang jauh lebih besar daripada Harun. Yesus adalah imam besar kita selamanya, semua tindak tanduk kita dibenarkan karena posisi Tuhan Yesus.

Yesus adalah penulis hidup kita. Ia juga yang akan menyelesaikannya bagi kita.
Saudara-saudara yang sekarang berada dalam lembah kekelaman, Tuhan bersamamu.
Kamu tidak akan kembali dengan kondisi yang sama. Kamu akan dibawa tinggi bersama Tuhan.
Hidup mendekat kepadaNya, berbisik padaNya karena Ia ada dekat denganmu.

Advertisements

2 thoughts on “Mengupas Ibrani 6

  1. Di sini saya mendapatkan, Roh kudus ialah saksi kalau semua dosa kita telah ditanggung oleh Yesus,Tuhan tidak lagi mengingat- ingat kesalahan kita,
    Kasih Karunia berarti Tuhan memberkati saya, Ia yang berusaha untuk mendekat kepada saya dan meraih saya meskipun saya tidak pernah memintanya,
    Sekarang Roh Kudus itu ada di dalam saya bukan lagi diatas saya, Saat ini kita berada dalam posisi paling dekat dengan Tuhan,
    Kita punya Roh Kudus,Tuhan sendiri dalam kita,

    Dan Allah mau menegaskan kepada kita yang menerima janji-Nya bahwa Ia tidak akan merubah janji-Nya, Sekarang semua bergantung kepada-Nya, Ia yang akan memenuhi janji-Nya kepada saya apapun kondisi saya sekarang,Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s