Saturday Diary

Makan, Jajan & Ngemil di Kota Cirebon

Perjalanan ke sebuah kota kecil di Jawa Barat ini telah dibicarakan sejak setahun sebelumnya; oleh sekian banyak orang; didalam berbagai kesempatan; dan berakhir menjadi wacana.IMG_6814

Setelah perjalanan panjang selama 4.5 jam tibalah kami di kota panas nan terik ini. Kami menghabiskan dua hari dua malam di kota Cirebon untuk berwisata kuliner sebelum merayakan imlek 2015. Tidak hanya jajanannya, makanan berat yang ditawarkan disana juga lezat.

Kami sampai disana tepat sebelum jam makan siang, dan langsung melaju ke:

EMPAL GENTONG PAK OMAN Tidak dapat dipungkiri bahwa ini adalah empal gentong terlezat yang pernah kucoba. Masing-masing memesan semangkok IMG_6815empal gentong, dengan pilihan yang bervariasi seperti “Daging”; “Daging Babat”; “Daging Campur”. Sambil menunggu masakannya jadi, kami memakan gorengan tempe yang masih panas dengan cabe rawit hijau.

Kami menghabiskan Rp 82.000 untuk 3 mangkok empal gentong, 4 piring nasi, 10 buah krupuk, 5 buah gorengan tempe, 4 es teh, 1 gelas es kelapa jeruk dan 1 gelas es kelapa gula merah.

Empal Gentong mengingatkanku pada soto, namun rasanya tidak persis samaIMG_6820. Ada keunikan tersendiri yang ditawarkan oleh empal gentong. Empal Gentong Pa Oman telah menjadi langganan keluarga Mr Mon selama bertahun tahun.

***

Setelah makan siang, kami menikmati jajanan pinggir jalan seperti TAPEL, REBON, TAHU GEJROT, BURAS ONCOM dan PECEL PEDA.

Menggigit Tapel tanpa mengetahui apapun tentangnya; membuat kami menebak nebak. Dari luar kami merasakan kerenyahan kulitnya; dari dalam kami merasakan kelembutan pisang serta kelapa.

unnamed

Rebon berbentuk seperti perkedel, namun rasanya tidak sama dengan perkedel. Saat menggigitnya; kami dapat merasakan kerenyahan udang-udang kecil yang masak dan masih segar.

Tahu Gejrot bukan jajanan baru bagi orang Jakarta, namun menyantap makanan ini di kota asalnya sendiri memberikan nuansa yang berbeda. Berikut adalah rekaman dari Ibu nyentrik yang mengulek bawang merah dan cabai dengan cepatnya:

Buras Oncom ini dibeli di pasar yang letaknya berdekatan dengan Toko Oleh-Oleh Sinta yang populer. Meski kami sudah kekenyangan dengan jajanan lain; kami tetap mengkategorikan buras oncom sebagai jajanan yang tidak boleh dilewatkan saat mengunjungi kota Cirebon.

unnamed-2

Untuk makan malam, kami menyantap Mie Koclok Jatimerta Kartini. Kata beberapa saudara Mr Mon yang memang berasal dari Cirebon, ada dua tempat mie koclok lain yang juga menyediakan hidangan yang sama lezatnya namun sedang tidak buka.

Mie Koclok mengingatkanku pada emie medan di Muara Karang, hanya saja bumbu yang dituang pada Mie Koclok berwarna putih.

BAGIAN 2

Pagi ini kami kembali ke Pasar yang letaknya berdekatan dengan Toko Oleh Oleh Shinta, untuk bersarapan Docang.

unnamed-4Bayangkan saja ketupat sayur, ketika melihat Docang ini, hanya ganti kuahnya dengan sayur asam. Banyak orang yang menggilai makanan ini, meski demikian aku menilainya biasa saja.

Setelah itu kami mampir ke Rumah Kue untuk mengambil pesanan Ketan Bumbu yang konon merupakan favorit mantan presiden SBY. Rasanya memang benar-benar enak, kebanyakan jajanan pasar di Jakarta yang bentuknya persis seperti ini sayangnya tidak menawarkan rasa yang sama.

Untuk makan siang, kami memilih Nasi Lengko H. Sadi dan mencoba Sate Sapi yang ditawarkannya. Aku sangat-sangat menyukai Sate Sapi mereka, namun tidak merasakan hal yang sama terhadap nasi lengko mereka. Saudara Mr Mon mengatakan bahwa nasi lengko H. Barno memang lebih enak daripada H.Sadi. Lain kali, barangkali? 🙂

Yang terakhir dan tidak boleh dilewatkan adalah Nasi Jamblang. Sayur-sayur yang dijajakan mengingatkanku pada nasi uduk Bu Sum di Pangeran Jayakarta, Jakarta; meski Nasi Jamblang menggunakan nasi putih yang dibungkus daun.
unnamed-3

Nasi Jamblang dan Mie Koclok hanya buka di malam hari, sehingga kami hanya bisa menyantapnya untuk makan malam.

Metha telah memperingatkanku bahwa Nasi Jamblang tersohor Bang Doel tidak terlalu enak, dan memang Mr Mon dan keluarga merencanakan untuk kami pergi ke Nasi Jambang langganan mereka, Nasi Jamblang Ibu Nur atau Ibad Otoy.

Dhody, teman Mr Mon, menggagalkan rencana tersebut dan menekankan kepada kami secara berulang ulang untuk menyantap Nasi Jamblang Ibu Pitri yang disebutnya sebagai yang paling enak di Kota Cirebon. Kami tidak menyesal mengikuti sarannya, nasi jamblangnya memang benar enak.

Malam ditutup dengan melahap Tahu Petis yang gerobaknya bersebelahan dengan Nasi Jamblang Ibu Pitri. Sambal petis berwarna hitam dan tampak sedikit menjijikkan, namun rasanya sungguh lezat. Satu gigitan yang mengubah jijik menjadi doyan 😀

IMG_6933 IMG_6825 IMG_6931
Jangan lewatkan Teh Giju dan Permen Davos yang dijual di warung dekat Fabrien Tenden.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s