Monday Thoughts · Uncategorized

Periapendikular, Usus Buntu Akut Menjelang Natal

Infeksi usus buntu adalah penyakit umum yang datang menyerang orang tua dan muda, tanpa pemberitahuan. Ia dikategorikan ringan meski menyakitkan, karena tinggal dipotong dengan bedah kecil atau teknologi laprascopic, dengan masa penyembuhan kurang lebih 3 hari.

Itulah yang ku tahu tentang usus buntu (acute appendicitis), sampai aku mengalami infeksi usus buntu unik bernama periappendicitis yang membuatku absen dari kantor selama 5 minggu. Begini ceritanya:

Minggu, 15-Nov-15

Sejak sore, aku merasakan nyeri di perut sebelah kananku. Sambil berdoa aku berharap rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya, sementara aku berjalan ke belakang panggung bersama dengan teman-teman sepelayananku. Masih ada satu kebaktian lagi sore itu, sebelum kami dibubarkan. IMG_5330

Sepulangnya dari gereja, aku berjalan dengan arah bahu memberat di sebelah kanan karena nyeri perut tersebut berkurang setiap aku menekannya. Malam pun tiba, aku mencoba untuk tidur namun terbangun oleh rasa nyeri yang muncul berulang kali. Aku langsung menduga bahwa rasa sakit yang semakin tak tertahankan ini dikarenakan infeksi kantung kemih atau typus/demam berdarah.

Senin, 16-Nov-15

Keesokan paginya, aku mengirimkan pesan kepada managerku bahwa aku harus bertemu dokter karena sakit perut dan langsung melaju ke klinik terdekat.

Setelah mendapati suhu badanku berada di 38° celcius, Dokter menyuruhku untuk membuang urine kedalam sebuah botol kecil. Kurang dari 5 menit, ia sudah mendapatkan hasil testnya. Ia menjelaskan bahwa rasa sakit yang kuderita dikarenakan oleh infeksi saluran kencing ringan sambil menunjukkan potongan kertas yang berubah warna menjadi ungu muda, “Ini hanya infeksi ringan, setelah meminum obat kamu akan sembuh besok. Jangan lupa untuk mengukur suhu tubuhmu, jika masih menunjukan 38° celcius dalam dua hari ini, kamu harus kembali untuk tes darah.”

Dengan lega aku pulang ke rumah, dan meminum obat antibiotik yang diberikannya. Tidak seperti biasanya, aku sempat memuntahkan sebagian dari makan siangku hari itu, namun penuh dengan harapan bahwa keadaanku akan membaik besok. Aku mendapati rasa sakit di perutku hilang setiap aku menelan pil antibiotik tersebut.

Rabu, 18-Nov-15

Namun aku menyadari bahwa demam itu hanya turun sementara antibiotiknya bekerja, dan suhu badanku pun naik ketika khasiatnya sudah habis – 8 jam kemudian. Hari rabu, aku tetap memaksakan diri pergi ke kantor hanya untuk mendapati bahwa aku harus pulang kerumah karena demam itu kembali muncul dan rasa nyeri kembali menyerang.

Dokter mengambil sampel darah dan mengirimnya ke laboratorium, lalu menyuruhku tetap meminum obat antibiotiknya sampai hasil pemeriksaan darah keluar besok pagi. Aku merasa begitu lemah, sehingga mamaku harus terbang kesini untuk sekadar membantuku membeli makanan. Sesuatu yang begitu asing dalam hidupku, merasa lemas sama sekali. Nyeri di perut itu berpindah dari kanan, ke tengah, ke kiri, keatas dan kebawah setiap jam.

Kamis, 19-Nov-15

Hasil pemeriksaan darah mengejutkan dokter, aku dapat mendeteksi dari nada suaranya ditelepon. Sesampainya di klinik, ia menjelaskan bahwa sel darah putihku berada diatas rata-rata dan hsCRPku pun tinggi, hal itu menandakan ada infeksi yang cukup akut sedang tejadi di salah satu organ tubuhku. Aku langsung mengirimkan hasil ini kepada teman dekatku, RL, yang bekerja sebagai dokter umum; dalam perjalananku menuju rumah sakit.

Dengan yakin ia mengatakan bahwa itu adalah tanda infeksi usus buntu. Ia berkata bahwa aku harus menjalani CT-Scan yang pernah kusaksikan lewat layar kaca, dari serial TV Grey’s anatomy, untuk mendapatkan hasil akurat tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Tanpa keraguan aku langsung memilih rumah sakit pemerintah, mendengar harga rumah sakit swasta yang tidak kira-kira mahalnya. Temanku meyakinkan aku untuk memilih SGH dibanding CGH, jadi pergilah aku kesana meski aku punya pengalaman yang cukup bagus di CGH (Dr. spesialis kulit).

Berbagai perasaan memenuhi benakku, mulai dari takut, khawatir dan sedih. Di saat seperti ini, bekerja di kantor sesibuk-sibuknya jauh lebih baik daripada merasakan kesakitan. Aku mencoba mengingat-ingat jika aku pernah mengeluh karena kesibukanku dikantor.

Untuk pertama kalinya aku duduk di kursi roda, sambil membaca buku Grace Revolution yang ditulis Pendetaku, Ps Joseph Prince. Kemudian seorang perempuan dengan potongan rambut pendek, memanggilku masuk keruangan untuk X-Ray. Salah seorang suster mengantarku ke ruang tunggu dan menyuruhku untuk berpuasa sebelum test CT-Scan 6 jam lagi.

Sekumpulan dokter wanita berjumlah 4 orang datang menemuiku dan berkata bahwa mereka tidak menemukan hasil yang signifikan dari foto X-Ray, semuanya tampak sempurna. Mereka akan kembali besok setelah hasil CT-Scan itu keluar.

CT-Scan

Aku tidak terlalu lapar maupun haus, aku hanya ingin ini cepat cepat berlalu. Berpuasa selama 10 jam kujalani tanpa mengeluh. Disuntik dengan obat CT-Scan lewat lubang infus, membuat seluruh tubuhku terasa hangat. Sebagian obatnya tumpah di rambutku dan menyebabkan helaian rambutku langsung mengeras dan kaku. Suster di bagian radiologi ini mengumpat sambil mengelap rambutku dengan handuk putih bersih, “Suster yang membuat lubang infus ini ga bener, makanya obatnya bisa bocor di rambut kamu begini.” IMG_3803

Setelah itu, aku memejamkan mata, menarik nafas sementara tubuhku melewati mesin CT-Scan dan membuang nafas sesudah keluar dari sana. Mesin itu mengulang adegan yang sama selama tiga kali.

Sebagai orang dengan iman tidak sebesar biji sesawi, aku berdoa sepanjang malam agar mujizat terjadi dan hasilnya baik-baik saja. Aku tertidur dengan perasaan sedih.

Jumat, 20-Nov-15

Tidurku tidak lelap, setiap dua jam ada suster yang datang untuk memeriksa suhu tubuh, tekanan darah dan jumlah air dalam tubuhku. Seorang dokter wanita datang tengah malam dan berbisik padaku bahwa sebagian dari hasil CT-Scan tersebut sudah keluar dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tidak demikian dengan berita yang kudapat keesokan paginya, keempat dokter wanita yang kutemui sehari sebelumnya datang membawa berkas sambil menjelaskan padaku apa yang sedang terjadi. Mereka menjelaskan bahwa disamping infeksi usus buntu, usus buntu-ku membentuk nanah dan menyebabkan usus lainnya mengeras; itulah alasan sakit perutnya berpindah-pindah dari kanan ke atas, bawah, kiri dan tengah.

Setelah berdiskusi dengan dokter senior, mereka memutuskan bahwa mereka akan memasukkan selang untuk menyedot nanahnya hingga kering setelah mendapat persetujuan dari ahli radiologi di rumah sakit. Salah seorang dari keempat dokter tersebut, menerangkan bahwa aku harus tetap berpuasa, karena jika usus buntu tersebut meledak maka aku harus menjalani operasi besar saat itu juga. Resikonya adalah bagian dari usus besarku akan dipotong karena berada dalam kondisi mengeras.

Sebagai manusia normal, aku merasa takut mendengar hal tersebut; aku baru tahu jika usus buntu bisa meledak. Mamaku membenarkan hal tersebut, salah seorang teman dekatnya pernah mengalaminya. Ia menceritakan padaku bahwa temannya harus menjalani bedah besar, karena pecahan usus buntu yang meledak tersebut menempel pada organ tubuh yang lain, seperti paru-paru, ginjal, dan lain sebagainya.

Beberapa jam kemudian, dokter tersebut kembali dan berkata bahwa ahli radiologi menolak untuk memasukkan selang karena letak usus buntu-ku berada dibelakang usus-usus lainnya. Dokter ini menyarankan aku untuk tetap berpuasa, sambil tetap diinfus dengan antibiotik supaya nanahnya mengempes.

Sabtu, 21-Nov-15

Sampai hari ini, sumber makananku hanyalah kantong infus, namun aku tidak merasa lapar ataupun haus; hanya bibir dan kulitku yang semakin memucat kering. Di rumah sakit, aku bertemu begitu banyak suster mulai dari yang jutek sampai yang baik hati; ada 3 shift suster setiap harinya (Shift Pagi) 07:00-16:00, (Shift Siang) 15:00-22:00, Shift Malam (21:00-07:00).

Suster-suster memperingatkanku untuk berhati-hati ketika berjalan atau melakukan aktivitas lainnya karena memasang infus pada tangan dan lenganku membutuhkan perjuangan yang panjang. Ini adalah gambar 10 lubang infus yang dibuat oleh suster-suster dan dokter-dokter junior disana, selama berjam-jam.

IMG_5331

Mama, Mon dan teman-temanku merasa ngeri sekaligus kesal karena suster-suster dan dokter menghabiskan 1 jam lebih untuk menemukan nadiku. Harapanku mulai pupus ketika dokter jaga berkata akan memasangkan infus tersebut di kakiku jika ia tidak dapat menemukan nadi di tangan dan lenganku. Untungnya ia menemukannya!! Dan jika aku mengingat-ingat apa yang terjadi hari itu, aku jadi tertawa kecil.

Minggu, 22-Nov-15

Seorang dokter pria datang, ia adalah dokter spesialis senior yang sering disebut-sebut oleh keempat dokter wanita tersebut; wajahnya mirip dengan bekas managerku sewaktu aku bekerja di Jakarta. Setelah mendengar dari rekan kerjaku bahwa seseorang meninggal di SGH karena masalah usus, aku langsung terpikir untuk mencari tahu tentang dokter ini di google. Ada sebuah berita yang berkaitan dengan tuntutan hukum seorang pasien ketika dokter ini masih merupakan dokter jaga, yang tidak berani kubuka.

Dokter ini menyayangkan keputusanku karena tidak langsung pergi ke rumah sakit untuk diatasi, ketika sakit itu mulai menyerang seminggu yang lalu. Ia berkata bahwa aku harus menunggu nanahnya kering sebelum menjalani operasi usus buntu, dan selama 3 hari ia telah memonitor bahwa tekanan darah-suhu tubuh-jumlah air dalam tubuhku menunjukkan hasil yang baik – tandanya, antibiotik yang diberikannya bekerja.

Keempat dokter wanita tersebut berkata bahwa aku harus tetap berpuasa supaya besok bisa menjalani satu lagi CT-Scan untuk memastikan bahwa nanahnya telah mengecil, sehingga bisa dilakukan operasi usus buntu biasa. Aku bersyukur karena Mon, mama dan teman-temanku tidak berhenti menemani dan mendoakanku melewati hari-hari di rumah sakit. Mon mengambil perjamuan kudus setiap hari, karena aku harus berpuasa.

Senin, 23-Nov-15

Dokter senior tersebut ternyata tidak setuju dengan rencana keempat dokter wanita yang hendak mengirimkan aku untuk CT-Scan secepat itu. Ia membiarkan aku pulang supaya aku bisa menghabiskan satu set antibiotik ini “Amoxicillin and Pottasium”, untuk memastikan bahwa nanahnya benar-benar sudah mengering.

SAMSUNG CSC
Amoxicillin dan Pottasium: antibiotik untuk daerah perut

Hari-hariku dirumah sedikit membosankan, aku memeriksa email sekali-kali dan mengirimkan balasan (urusan kantor) sambil kebanyakan beristirahat di ranjang dan makan dengan teratur.

Mengkonsumsi obat ini membuat feses berpasir. Temanku, RL, berkata bahwa obat ini memang asam dan agak keras, namun ampuh untuk menyembuhkan infeksi di perut, termasuk sakit typus.

Setelah menghabiskan obat antibiotik ini selama seminggu, aku kembali ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan CT-Scan dan tes darah. CT-Scan kedua ini berlangsung mulus, tidak lagi ada obat yang terjatuh di rambut.

Suster memasukkan suatu cairan dingin dari lubang pantat sebelum memulai CT-Scan yang dikhususkan untuk bagian perut ini. Lima menit sesudah CT-Scan, aku menggigil, dengan gigi gemeretak  yang tidak dapat kukendalikan. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan orang karena gigi kedua gigiku terus bergetar dengan cepatnya. Orang-orang disekitarku mulai panik, sementara suster memeriksa tekanan darah dan suhu tubuhku. Semuanya menunjukkan hasil normal, sehingga suster senior kemudian memberikanku air hangat; dan perlahan-lahan rasa menggigil itu pun pergi.

Beberapa hari sebelum hasilnya keluar, aku meminta seseorang yang berdiri di booth NCC connect di gereja, untuk mendoakanku. Ia berdoa bersamaku bahwa hasilnya akan baik, dan kesembuhan sudah jadi milikku.

Selasa, 8-Des-15

Aku menunggu selama dua jam sebelum bertemu dengan dokter ini. Ia mengenakan kemeja putih dan dasi pendek berwarna biru gelap, sambil menjelaskan dengan gembira bahwa hasil CT-Scan dan tes darah menunjukkan perkembangan yang bagus. Nanahnya sudah mengempes, dan hasil test darah menunjukkan normal di semua bagian. Ia berkata bahwa infeksi usus buntu tersebut mungkin akan kembali, dan sebaiknya dibuang jika aku berencana untuk hamil di masa yang akan datang.

Ia menjadwalkan 18-Jan-16 untuk operasi usus buntu. Mamaku merasa terkejut mendengar bahwa operasi usus buntu ini akan berlangsung selama dua jam, panjangnya sama seperti operasi yang dijalani mamaku waktu rahimnya diangkat. Menurut pengalamannya, operasi usus buntu hanya membutuhkan setengah jam, dan perasaannya menjadi tidak tenang.

Akhirnya aku pergi membawa hasil scan dan darah ini ke dokter lain di rumah sakit gleneagles. Mamaku merasa senang dan tenang mendengar penjelasan dokter ini yang dengan sabar menerangkan detil semua pertanyaan mamaku. Dokter tersebut begitu antusias untuk mengoperasiku dalam minggu tersebut, ia bahkan menawarkan untuk menelepon dokterku di SGH demi membatalkan jadwal operasiku pada 18-Jan mendatang; sehingga membuat mamaku justru berbalik merasa ragu dengan dokter ini.

Sabtu, 12-Des-15

Demam 38° kembali menyerangku tiga malam terakhir dan membuatku trauma dengan semua termometer ini.

SAMSUNG CSC
Termometer Omron

Mamaku dan Mon menyarankan aku untuk pulang ke Jakarta dan dirawat, karena mereka merasa bahwa dokter di SGH dan Gleneagles benar-benar tidak jelas. Yang satunya seakan memperlambat sementara yang satunya seakan terburu-buru. Aku berkata pada mereka bahwa aku ingin menyerahkan lembaran asuransi kantor sebelum pulang ke Jakarta hari itu juga.

Di ruangan tempatku mengurus administrasi asuransi, aku bertemu dengan Dr. Eugene (dokter pria spesialis lambung dan usus yang mengurus kasusku ini), yang sedang mengurus administrasi pasien lain. Ia terkejut melihatku duduk di kursi roda, karena demam ditambah nyeri perut dan lemas itu kembali menyerang sehingga petugas rumah sakit mendorong aku di kursi roda. Dr ini menuliskan emailnya di sebuah kartu nama kosong, dan berkata bahwa aku bisa datang ke kantornya hari selasa tanpa membuat janji lalu terburu-buru pergi.

Setelah aku selesai mengurus surat-surat untuk keperluan asuransi, dokter ini kembali menemuiku dan berkata bahwa ia mendapat telepon dari seorang suster jika mamaku mencarinya. Aku tidak tahu kenapa mamaku tetap mencarinya padahal sebelumnya ia justru menyuruhku untuk pulang ke Jakarta dirawat. Kami berbincang di lorong rumah sakit, dan ia menawarkan untuk mengoperasiku malam itu juga.

Jadilah aku di operasi pada malam itu. Sebelum dioperasi, aku membaca tulisan menawan ini: http://mariosingh.com/7-lessons-learnt-from-my-recent-appendicitis-operation/

Aku seakan mendapat bocoran akan apa yang akan aku lewati di meja operasi bahkan sampai pada kesudahannya. Merasakan titik bahwa aku tidak bisa berbalik dari keputusan untuk dioperasi, sewaktu dokter anastesi menyuruhku menandatangani sebuah formulir yang menunjukkan aku mengerti resiko dari anastesi. Sewaktu suster-suster anastesi menyuntikkan obat anastesi dan kedua dokter yang merawatku tersenyum dari depan ruangan, aku tahu inilah saatnya. Setelah menghirup udara dengan alat bantu oksigen selama tiga kali, aku terlelap.

Sewaktu aku terbangun, yang kurasakan adalah sakit yang teramat sangat di bagian pusar. Suster berkata bahwa aku harus menahan rasa sakit tersebut karena mereka telah memberikanku morfin untuk menahan rasa sakit. Aku memutuskan untuk tidur sepanjang malam itu, melihat dengan kabur wajah orang-orang yang menungguku selama operasi dengan perasaan bersyukur.

Minggu, 13-Des-15

Keesokan harinya Dr. Eugene menunjukkan foto usus buntu yang menurut pendapatku seram karena berlumuran dengan darah. Ia berkata bahwa operasi tersebut berlangsung selama dua jam karena mereka mengalami kesulitan untuk menemukan letak usus buntu-ku yang berada di belakang, namun ia senang karena tidak perlu melakukan bedah sayat dan bisa menyelesaikan operasi tersebut dengan laprascopic tanpa memotong usus besar.

SAMSUNG CSC
Arconia: obat penahan sakit

Ia mengizinkanku pulang dan menyuruhku untuk menghabiskan antibiotik dan obat penahan sakit merk “Arconia” ini.

Kamis, 17-Des-15

Selama 3 hari, aku hanya merasakan sakit di bagian pusar dan dua lubang lainnya sewaktu aku bangun berdiri dari posisi duduk atau tidur. Sakitnya sangat terasa, namun berangsur-angsur pulih. Aku berhenti mengkonsumsi obat penahan sakit setelah 3 hari karena bekas operasi tersebut tidak lagi sakit, tanpa menyadari bahwa obat penahan sakit itulah yang membantuku menelan makanan selama 4 hari terakhir.

Setelah aku berhenti memakan obat tersebut, aku bahkan tidak bisa menelan pepaya karena rasa perih di tenggorokan yang bukan main sakitnya. Aku belum menyadarinya saat itu, hanya air hangatlah yang bisa lewat tanpa menyebabkan kesakitan.

Aku mengarahkan senter dan melihat sariawan sepanjang 3 cm x 0.5 cm di samping kiri dan kanan tonsilku, pantas saja aku tidak bisa menelan pisang ataupun pepaya karena perih. Aku jadi malas menjawab orang, dan mudah merasa kesal ketika orang tidak mendengar apa yang kukatakan dan menyuruhku mengulangi apa yang kukatakan, semata karena perihnya tenggorokan ini.

Mendapati darah di wc setelah aku membuang air kecil membuatku shok. Apalagi ini, yang terjadi sesudah operasi?

Jumat, 18-Des-15

Aku bertemu dokter, dan menjelaskan padanya soal kencing darah dan luka di tenggorokanku. Ia mengatakan padaku bahwa darah itu disebabkan oleh cateter yang dipasang waktu operasi, dan luka di tenggorokan disebabkan oleh selang pernafasan yang dipasang sewaktu operasi; sambil kemudian memeriksa jahitan bekas operasiku, dan merasa senang dengan hasilnya.

SAMSUNG CSC
Difflam : untuk luka di tenggorokan

“Apakah aku masih harus bertemu denganmu pada tanggal 28 Desember mendatang?” tanyaku, karena sebelumnya aku telah memajukan jadwal konsultasi tersebut dari tanggal 28 ke 18.

“Sepertinya, tidak perlu. Tubuhmu akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu sebulan. Hmm.. Apakah kamu mau bertemu denganku?” tanyanya.

“Kalau kedua masalah tersebut tidak selesai dalam satu minggu mendatang, aku akan menemuimu.” Jawabku.

“Ok, begitu saja.” katanya setuju, sambil menuliskan resep untuk luka di tenggorokanku.

Darah itu berhenti beberapa hari setelah aku bertemu dengan dokter, begitupula dengan sakit di tenggorokanku.

Selama sebulan sesudah operasi, aku merasakan sesuatu yang tajam seakan lewat di perutku hampir setiap hari. Mama Mon berkata bahwa hal itu tidak mengherankan, perasaan itu akan berangsur-angsur pergi dengan sendirinya.

Memasuki bulan kedua setelah operasi, rasa tajam itu tidak lagi lewat di perutku, nafsu makan dan berat badanku pun kembali normal.

Thanks God! ^^, Aku sangat bersyukur karena aku dapat berbicara, bernyanyi dan menelan makanan tanpa melewati penderitaan. Aku bersyukur karena tidak lagi ada demam dan rasa sakit tidak tertahankan itu. Aku bersyukur karena suster-suster tidak perlu membuat lubang infus disepanjang lenganku. Aku bersyukur karena Tuhan selalu bersamaku, dan mengirimkan orang-orang terbaik untuk mengasihiku. 🙂

 

Advertisements

4 thoughts on “Periapendikular, Usus Buntu Akut Menjelang Natal

  1. Greetings from Colorado! I’m bored to death at work so I
    decided to browse your blog on my iphone during lunch break.

    I enjoy the information you present here and can’t wait to take a look when I get home.

    I’m shocked at how quick your blog loaded on my mobile .. I’m not even using WIFI,
    just 3G .. Anyhow, awesome blog!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s