Monday Thoughts

6 Hal Yang Kupelajari dari 6 Hari di Rumah Sakit

IMG_8768Berada di rumah sakit selama 6 hari sungguh mengubah paradigmaku. Aku selalu berpikir bahwa aku hanya akan masuk ke rumah sakit 4-5 kali dalam hidupku:

Pertama, sewaktu mamaku melahirkan aku (0) kedunia.

Kedua, sewaktu aku (2) memanjat lemari kaca dan terjatuh dengan pecahan kaca menyobek dahiku. Aku berakhir dengan beberapa jahitan malam itu.

Ketiga, sewaktu aku (3) memanjat jendela untuk mengganggu kakak sepupuku yang sedang belajar di kamar sebelah dan terjatuh dengan dua gigi tertanggal di jendela. Mamaku bercerita bahwa darah yang tertumpah disana sangat banyak dan membuat kedua orang tuaku panik.

Keempat, waktu aku (29) melahirkan anak pertamaku.

Kelima, waktu aku (31) melahirkan anak keduaku.

Kenyataannya, kali keempat aku masuk ke rumah sakit adalah karena usus buntu akut + bernanah.

Aku menonton 10 musim serial Grey’s Anatomy lewat layar laptop dengan setia selama 5 tahun. Tidak jarang aku berkicau di Twitter dengan quote-quote dari serial ini yang membuatku terharu. (Aku berhenti di musim ke 11 karena kecewa dengan kepergian Christina dan Derek Shepherd). Namun tetap saja.. menontonnya tidak membuatku familiar dengan rumah sakit!

Bekerja untuk Health Information System dengan klien seperti Rumah Sakit, Puskesman/Poliklinik dan Lembaga Kesehatan lainnya selama ini, tidak menjadikanku nyaman dan kerasan di rumah sakit!

Melangkah masuk ke dalam unit gawat darurat (UGD/A&E) dengan tubuh lemas; demam tinggi yang tidak kunjung turun selama beberapa hari; perut yang kesakitan, bukanlah hal yang menyenangkan.

Berbagai perasaan dan pikiran berkecamuk mulai dari positif hingga negatif, takut-khawatir-berusaha positif-berusaha tersenyum-sedih-marah-mellow-galau-berusaha penuh harapan.

Hal apakah yang aku pelajari dari rawat inapku di rumah sakit selama 6 hari?

Kesehatan adalah hal yang patut disyukuri setiap hari. Masalah yang terjadi di pekerjaan, hubungan, keuangan, keluarga sering membuat kita mengeluh dan lupa bahwa kita sudah diberikan dua hal yang sangat-sangat berharga saat ini yaitu “dosa kita sudah diampuni” dan “kesehatan” lewat penebusan Yesus buat kita.

Tidur dengan nyenyak disertai gaya mulai dari memutar, menyamping, tengkurap, telentang, menendang, mengkusek-kusek adalah hal yang patut disyukuri setiap hari. Karena di ranjang rumah sakit itu, aku tidak bisa banyak bergerak karena takut menggeser jarum infusku. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, para suster dan dokter jaga kewalahan menemukan nadi di kedua lenganku untuk memasang infus bahkan hampir hendak memasangnya di kaki! Aku tidak dapat membayangkan jika infus itu dipasang di kaki dan aku hendak pergi ke WC tengah malam.

Episode Aku dan DIA. Segala sesuatunya berubah menjadi kurang penting. Menonton LDP, Superman is back, MV-MV terbaru di Youtube biasanya selalu membuatku terhibur, namun hal itu tidak lagi membuatku terhibur. Membuka email kantor untuk menyibukkan diri tidak lagi penting. Aku hanya mau berbicara dengan DIA, mendengar soal DIA, membaca soal Dia… Karena aku sadar hanya DIA sumber pengharapan dan kekuatan di saat aku lemah, apalagi ditengah ketidakpastian dokter dan keterbatasan mama serta mon sebagai manusia. Aku tahu aku tidak bisa membebani kedua orang ini terus menerus untuk mencerahkan dan menyemangatiku. Lagu “Christ is enough” itu jadi hidup tiba-tiba.

Christ my all in all (Kristus adalah segalanya)
The joy of my salvation (sukacita dari keselamatanku)

And this hope will never fail (pengharapan ini tidak akan mengecewakanku)
Heaven is our home (surga adalah rumahku)
Through every storm (lewati badai)
My soul will sing (jiwaku bernyanyi)
Jesus is here (Yesus disini)
To God be the glory (Bagi Dia 
segala kemuliaan)

Keluarga, saudara-saudaraku dan teman-temanku adalah anugrah yang manis dalam hidupku. Aku sudah ingin secepatnya keluar dari rumah sakit, hanya saja dokter hendak memonitor pengempesan nanah lewat antibiotik yang diberikannya. Selain Mama dan Mon, semua cici/koko/kakak iparku/saudara dan teman-temanku tidak berhenti mendoakanku bersama-sama dan mengirimkan pesan yang menguatkanku. Yang mengunjungiku di jam besuk juga terbilang tiada akhir, meski aku hanya menceritakannya kepada orang yang kebetulan berkirim pesan dan bertanya secara spesifik “lagi dimana?”.

Aku tidak sekuat yang kusangka. Tidak sedikit orang yang terpukul karena aku bisa makan makanan yang sudah terjatuh di tanah tanpa sakit perut sedari kecil, namun bisa mengalami yang namanya “terkapar di rumah sakit”. Ternyata orang yang jorok tapi sehat itu adalah anugrah Tuhan, tenyata aku bukan superman.

“Enak ya kamu, ada waktu istirahat dibanding kita-kita yang stress dikantor” terucap oleh dua orang temanku, dan kalimat itu membuatku kesal. Menurutku, stress di kantor jauh lebih ringan daripada kesakitan. Aku sudah berpuasa selama 4 hari, rambutku sudah tidak karuan, kulitku sudah sakit ditusuk-tusuk jarum infus, rasa tajam menusuk-nusuk dan berpindah-pindah di perutku, setiap buang air aku harus melihat pasir di feses ~ maklumi saja kalau aku jadi lebih sensitif.

Berdoa lebih banyak tidak ada ruginya. Setiap malam aku hanya bisa berdoa, karena hatiku menjadi sedih melihat penyakit menggerogoti seseorang, merontokkan rambut orang, membuat seseorang jadi bergantung pada orang lain seumur hidup mereka. Aku terus memutar lagu “No Longer Slaves”, “Ever Be”, “Good Good Father” dan “You are My Hiding Place” sampai aku jatuh tertidur untuk membangkitkan semangatku.

Kamar yang ditempati waktu itu adalah kamar kelas dua yang berisi 4 orang.

Wanita yang tidur di sebelah kiri bilik ranjangku, sedang menjalani kemoterapi. Ia memiliki dua anak angkat yang tampan dan gagah yang bergantian datang untuk menjenguknya di jam besuk, serta seorang saudari perempuan yang selalu menjaganya setiap malam. Pribadinya lantang, ia tidak sungkan mengeluh soal makanan atau minuman didepan para perawat sambil sesekali bercengkerama dengan mamaku dalam dialek Hokkian.

Wanita yang tidur diseberang bilik ranjangku, adalah seorang wanita melayu yang mengalami gagal ginjal karena senantiasa mengkonsumsi ikan asin setiap hari tanpa absen sejak ia kecil. Ia harus menjalani cuci darah (dialysis) seumur hidupnya, suami dan anak-anaknya bergantian datang untuk menemaninya setiap malam. Sewaktu ia hendak keluar (discharge), ia berpesan padaku untuk tetap kuat dan semangat.

Pasien lainnya di kamar itu adalah seorang wanita tua yang mempunyai sifat yang manja terhadap suster, suami dan juga anaknya sehingga suatu malam aku dan Mon tidak luput dari menyaksikan drama keluarga mereka. Sepertinya ia mengidap diabetes karena kakinya dibalut dan diangkat seakan diamputasi, tapi aku tidak tahu jelas. 

Kenapa 4 lagu ini yang terus kuputar setiap malam?

Waktu Takut: I’m no longer slaves.

I’ve been born again Into your family Your blood flows through my veins….
You split the sea So I could walk right through it My fears were drowned in perfect love….
I’m no longer a slave to fear I am a child of God

Aku sudah lahir baru ditengah keluargaMu, darahMu mengalir di nadiku… Kamu membelah laut supaya aku bisa berjalan menyebranginya, Ketakutanku hanyut tenggelam didalam cintaMu yang sempurna. Aku bukan lagi budak dari ketakutan, aku adalah anakMu.

Waktu Lemah: Ever Be

Faithful You have been and faithful you will be You pledge yourself to me and it’s why I sing Your praise will ever be on my lips, ever be on my lips.. 
You Father the orphan Your kindness makes us whole And you shoulder our weakness
And your strength becomes our own…

Engkau telah menunjukkan kesetiaanku dan Kau akan tetap setia. Kau telah berjanji padaku, sehingga pujian untukmu akan tetap keluar dari mulutku. Kau adalah Bapa, kebaikanmu membuat kami menjadi utuh, Kau mengangkat kelemahan kami dan memberikan kami kekuatanMu.

Waktu Sedih: Good Good Father (lagu favoritku sepanjang tahun 2015)

You’re a Good, Good Father
It’s who you are, it’s who you are, it’s who you are
And I’m loved by you
It’s who I am, it’s who I am, it’s who I am
Cause you are perfect in all of your ways
You are perfect in all of your ways
You are perfect in all of your ways to us

Kau adalah Bapa yang baik, itulah Engkau! Aku dikasihi olehmu, itulah Aku! Karena Engkau sempurna didalam jalan-jalanmu, Engkau sempurna didalam jalan-jalanmu untukku.

Waktu Patah Semangat: You are my hiding place

You are my hiding place
You always fill my heart
With songs of deliverance
Whenever I am afraid
I will trust in You
I will trust in You
Let the weak say
I am strong
In the strength of the Lord

Kau adalah tempat persembunyianku. Kau mengisi hatiku dengan nyanyian pertolongan/keselamatan ketika aku takut. Aku akan percaya padaMu, biar yang lemah berkata mereka kuat dalam Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s