Saturday Diary · Uncategorized

Tentang Memasuki 30an, Guilty Pleasure Dan Membuat Pilihan

Kosakata bahasa inggrisku bertambah sewaktu aku mulai mengenal istilah “guilty pleasure” beberapa tahun lalu. Guilty pleasure adalah sesuatu/hal yang membuat seseorang menggandrungi meski itu mungkin bukan pilihan yang terbaik.

Beberapa guilty pleasures yang kumiliki belakangan ini adalah menonton berita selebriti meski kebanyakan berisi rekayasa media bahkan kadang sampah (haha :D), aktivitas ini kemudian terganti dengan menggulir lembaran instagram dan path selama 1-2 jam keesokan harinya, dan digantikan lagi dengan menonton KPOP girl group bernyanyi sambil menari dengan koreografi yang menakjubkan lewat Youtube channel seperti Mnet dan lainnya selama 2-3 jam di hari berikutnya.

Youtube dan Instagram menyita hampir seluruh waktu luangku selama 3 tahun terakhir, meski aku tahu itu bukan pilihan terbaik karena diluar urusan pekerjaan aku menjadi tidak produktif. Guilty Pleasure menghentikan produktivitas/pengembangan diri seseorang.

Sebagian teman sudah menikah dan mempunyai anak, aktif dengan kegiatan montessori anak ~ itulah produktifnya mereka.

Sebagian teman sudah menikah dan belum mempunyai anak, mempelajari ilmu fotografi/bisnis/memasak/yoga/pool dance/aktif bermain musik atau mengajar di gereja ~ itulah produktifnya mereka.

Sebagian teman masih single, selalu merencanakan perjalanan jauh ke benua lain setidaknya sekali setiap tahun/mempelajari investasi keuangan/mempelajari bahasa yang baru/menciptakan otot lewat kelas-kelas di tempat fitness langganan yang tidak pernah terlewatkan/belajar bermain gitar, keyboard untuk pertama kalinya ~ itulah produktifnya mereka.

Sebagian lainnya menghabiskan waktu luang untuk menonton film drama korea sampai kurang tidur, mencoba tempat-tempat makan baru dan jarang berolahraga sampai pakaian terasa mengetat, menggulir lembaran instagram dan berkutat dengan Youtube selama berjam-jam. Contohnya ya aku ini. 

Meski merasa bersalah karena sering menunda apa yang telah kurencanakan untuk dilakukan demi pengembangan diri seperti membaca 12 buku setiap tahun, mendengarkan kotbah yang bermanfaat paling tidak tiga kali seminggu, menghabiskan 5 jam seminggu untuk belajar bermain keyboard, menghabiskan 3.5 jam seminggu untuk belajar bahasa, bersaat teduh 7 jam seminggu, berolahraga tiga kali seminggu ~ aku tetap melakukannya karena itulah guilty pleasure-ku.

Akibatnya?
Keyboard dirumah menganggur karena jarang disentuh, bahkan aku membaca not balok bagaikan anak batita membaca buku novel tebal. Tertatih-tatih, terbata-bata.

Aku tidak menguasai bahasa yang baru dalam 3 tahun terakhir.

Aku hanya membaca 1-2 buku dalam setahun.

Aku hanya mendengar 1 kotbah diluar kotbah hari minggu.

Aku hanya berolahraga 1 kali seminggu.

Aku hanya bersaat teduh mungkin 15 menit dalam sehari. 

Guilty pleasure mengenal masa kadaluwarsa.

Guilty pleasure masa lalu yang sudah tidak lagi kugemari adalah berkirim pesan via BBM/Whatsapp/SMS dan berkutat dengan Facebook.

Dulu, semua berita terasa menarik untuk dikomentari, meme/cerita/topik terasa menarik untuk disiarkan dan dibahas di grup. Namun tiba-tiba aku merasa grup chat menjadi terlalu banyak dan besar. Hanya 80 group chat ditambah 30-50 chat pribadi yang aktif dan aku sudah kewalahan. Aku tidak bisa membayangkan kehidupan selebriti-selebriti yang mempunyai kenalan di setiap belahan dunia, mereka mungkin punya ribuan group chat dengan puluhan ribu chat pribadi, membayangkannya saja aku langsung pusing tujuh keliling. Akhirnya, aku memutuskan untuk memberikan kontribusi ucapan ulang tahun, aktif menjelang pertemuan yang kami rencanakan atau jika ada berita tertentu, dan grup mini/kecil.

Tiba-tiba aku merasa teman-teman di Facebook menjadi terlalu banyak dan beragam mulai dari seluruh keluarga besar, teman-teman dari sekolah-kuliah-kerja-gereja-les-asuransi-investasi lingkar satu, lingkar dua, lingkar tiga hingga lingkar delapan belas? Hanya 1500++ teman dan aku sudah kewalahan. Tiba-tiba aku jadi bosan, tiba-tiba aku jadi tidak lagi hendak memposting/mengunduh apapun, aku bahkan menon-aktifkan Facebook selama beberapa bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengaktifkannya kembali. Tetapi kali ini, sebagai pengguna pasif.

Sewaktu aku membaca Roma 7:19, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” tiba-tiba aku merasa Paulus seperti mengerti apa itu Guilty Pleasure. Aku bersyukur Paulus tidak mengakhiri kalimatnya disitu, di Roma 8:1-2 ia menambahkan, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.

Seseorang memarahiku lewat serangan komentar baru-baru ini, karena aku menuliskan hal-hal yang terkesan membela Ps Prince di salah satu artikel.

Aku tidak setuju dengan 90% hal yang dikatakannya, tetapi ia mengingatkanku akan satu hal yang cukup bagus: “Kembali memilih untuk membaca Firman Tuhan.”

Berbeda dengan perjalanan rohaniku di Indonesia, disana aku harus membaca alkitab secara berulang-ulang meski aku belum paham sampai aku mendapatkan pencerahan. Saat ini Alkitab Bahasa Indonesiaku tersimpan dengan baik di rak bukuku di Jakarta, kertasnya sudah usang karena alkitab itu telah digunakan sejak SD untuk tugas sekolah dan kemudian kubaca berulang selama kurang lebih 3 kali sebagai bagian dari PR (pe-er) di komunitas sel-ku setelah aku menerima Kristus.

Disini, aku lebih sering mendengarkan kotbah (diluar kotbah hari minggu) atau membaca renungan harian dari pendeta yang sama selama 6 tahun terakhir karena pendeta-pendeta yang kudengar sudah mendapatkan pencerahan (aku merasa lebih gampang), sehingga alkitab bahasa inggrisku begitu licin dan bahkan siap untuk dijual kembali di toko buku terdekat.

Alkitab bahasa inggris versi The Message yang baru saja kubeli awal tahun 2016 benar-benar membantuku mengerti alkitab dengan lebih baik, karena versi lain seperti KJV, NKJV dan NIV lebih sulit dimengerti. Aku bersyukur Roh Kudus dengan kreatifnya mengirim orang ini untuk mengomel, mendorong Eugene Peterson untuk menulis Alkitab versi The Message 10 tahun yang lalu, mendorong temanku yang bukan seorang kristen untuk menghadiahiku Alkitab Bahasa Inggris di hari ulang tahunku.

Sekarang, aku belum benar-benar menang dari excessive guilty pleasure dan tiba-tiba saja memiliki 5 alkitab bahasa inggris (NIV, NKJV, KJV, The Message, NLT).

Beberapa hari lalu aku menonton memorial Christina Grimmie yang tewas tertembak oleh fans fanatik, terharu dengan cerita-cerita yang dibagikan oleh orang-orang terdekat Christina lalu menangis selama kurang lebih 1 jam dan tersentak dengan kotbah pendek pendeta gembala dari gereja Christina. Kotbah pendeknya berisi tentang pilihan hidup Esau dan Yakub.

Ini adalah pilihan yang harus kubuat, tenggelam dalam guilty pleasure atau tenggelam dalam FirmanNya.

Seperti Esau (sewaktu persembahannya tidak diterima Tuhan), ia punya pilihan untuk memberikan persembahan yang lebih baik next time dan move on dari rasa cemburu berkepanjangan atau berendam dalam rasa kesal lalu membunuh Yakub.

Setelah menghabiskan beberapa tahun di akhir usia 20an dengan pilihan tidak bijak semacam tenggelam (excessive) dalam guilty pleasure, aku ingin menjalani 30an ku dengan tuntunan Roh Kudus untuk membuat pilihan-pilihan yang lebih baik. Ganbatte kita semua! ^^,

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Memasuki 30an, Guilty Pleasure Dan Membuat Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s