Saturday Diary · Uncategorized

Ranu Kumbolo, Trekking 5 Jam Demi Melihat Sebuah Danau

Hari-2 (lanjutan..)

Kami tiba di Ranu Pane jam 11 siang, menyantap makan siang kami di rumah makan yang menjual masakan rumahan tanpa daging. Jadilah kami memesan nasi goreng, kuah sop kentang dan gorengan tempe. Sesudah makan kami bersiap-siap untuk naik ke atas Ranu Kumbolo – kaki gunung semeru.

Namun betapa terkejutnya kami saat mendapati kami tidak akan bisa naik ke Ranu Kumbolo tanpa “Surat Sehat” atau surat dari dokter yang menerangkan bahwa kita sehat. Dokter terdekat di Ranu Pane sedang di opname dan satu satunya dokter yang masih buka terletak di Malang, dua jam perjalanan!

dscf6020
Ranu Pane, Swiss A la Jawa Timur

Jengkel kepada supir sekaligus pemandu tur kami, karena ia bereaksi seakan tidak terjadi apa-apa. Supir jeep dengan kecepatan tinggi membawa kami ke Malang. Syukurlah kliniknya buka dan kami hanya perlu membayar 10 ribu untuk 3 lembar surat sehat.

img_20160924_131714_hdr.jpg

Setibanya kami kembali di Ranu Pane, salah seorang porter yang bertugasΒ membimbing kami berkata bahwa kantor registrasi tutup jam 3 dan menawarkan kami untuk melakukan pendakian di esok pagi dan berfoto selama 1 jam sebelum akhirnya kembali ke Ranu Pane.

img_1183
Selfies Dengan Jatim Swiss πŸ˜›

Ide itu terdengar sangat gila di telingaku, apalagi setelah ia menambahkan bahwa perjalanan ini akan memakan waktu 6 jam sekali jalan, bukan 4 jam seperti yang dibilang orang. Aku kemudian mengungkapkan keberatanku (karena merasa aku tidak akan sanggup untuk melakukannya) dan akhirnya kami bertiga sepakat untuk mencoba pergi ke kantor tersebut sambil berharap mereka masih buka.

dscf6029

Dan ternyata masih buka!

Aku sedikit menyesal karena ia masih buka, kalau tidak aku akan punya alasan untuk tidak naik keatas. Ρ’Γ₯Βͺβ€’Ρ’Γ₯Βͺβ€’Ρ’Γ₯Βͺ

img_20160924_162624_hdr

Jadilah kami berangkat keatas dengan tas punggung masing-masing, kedua porter kami membawa tas camping besar dan berat berisi peralatan camping dan makanan.

img_20160924_164220_hdr

Setiap berjalan naik 50 langkah, nafasku tersengal sengal, sehingga porter yang berjalan dibelakangku merasa takut dan kemudian memilih rute yang lebih dekat sebab ia melihat wajahku berubah merah. Ia menyuruhku beristirahat setiap kali aku membutuhkannya dibanding tersengal sengal, karena memaksakan diri bisa menyebabkan serangan jantung seperti yang pernah dialami oleh salah seorang pengunjung sebelumnya.

Ada 5 posko yang harus kami lewati, rute lebih pendek yang biasanya ditempuh 2.5 jam oleh porter dan 4 jam oleh pemula; kami tempuh selama 5.5 jam. Aku tidak dapat membayangkan jika kami harus melewati rute terpanjang. Dibanding teman-temanku yang lain, aku adalah yang paling lambat melewati rute naik dan paling cepat melewati rute turun.

Ditengah perjalanan, salah seorang porter yang lebih muda menawarkan untuk membawa tas ranselku meski ia sendiri sudah memunggung tas camping yang benar benar berat dan besar. Setelah menyusahkannya dengan tas punggungku,

Aku masih harus memegang erat tas campingnya melewati tanjakan maupun turunan yang sulit, sementara E dibantu oleh Pak Bambang. Diantara kami, hanya T yang mampu melewati medan ini tanpa pertolongan siapapun.

Sesampainya kami di Ranu Kumbolo, hari sudah gelap, senter yang terpasang di kepala kami hanya mampu menerangi sedikit jarak pandang. Aku tidak nafsu makan, yang ku mau hanyalah tidur karena tubuhku benar benar letih seperti mau rontok.

Setelah mengganti pakaian didalam tenda, aku langsung membaringkan diri dan terlelap dalam hitungan detik. Tanpa pergi ke wc, menyikat gigi dan makan malam.

Hari-3

Keesokan paginya aku terbangun dan jelas melihat terangnya langit dari dalam tenda. Aku melangkah keluar dari tenda namun matahari belum terbit, meski langit sudah terang, pemandangan ranu kumbolo yang kami tunggu tunggu ada di hadapanku.

img_1204
Pemandangan di Luar Tenda

Aku terdiam mengamati pemandangan ini, bukan karena keindahannya yang menakjubkan, namun karena pemandangannya tidak seindah yang ku kira atau kuharapkan. Selama ini aku menikmati pemandangan tempat ini lewat foto di layar komputer ataupun ponsel, dan bentuknya terlihat jauh lebih indah.

DCIM101GOPROGOPR0356.
Selfie Dengan Ranu Kumbolo

Menurutku pribadi, rasa letih berjalan mendaki selama 5.5 jam tidak terbayar dengan pemandangan ini. Dua tahun lalu aku menikmati birunya danau lain (lebih indah dari ranu kumbolo) tanpa harus berjalan mendaki selama 5 jam lebih dan serasa hampir kehabisan napas. Kami mengambil beberapa foto disini untuk kenang-kenangan, meniru kelompok lain yang mengambil pose melompat dengan pemanangan ini didepan kami:

dscf6039

T dan kedua porter berjalan menuju padang lavender dibelakang bukit tanjakan cinta. Mereka telah membujuk kami untuk ikut, namun E dan aku tetap memutuskan untuk mengistirahatkan kaki kami di dalam tenda setelah mendengar perjalanan turun kebawah akan memakan waktu dua jam dengan medan yang lebih berat dari kemarin.

img_1201
Bukit Tanjakan Cinta

Setengah jam kemudian, T kembali dengan belasan foto padang lavender berwarna kehitaman. “Lavendernya kering.” Ujar T. Lewat layar kamera, aku menyadari pemandangannya terlihat lebih bagus.. ranu kumbolo maupun padang lavender terlihat lebih indah dari atas bukit tanjakan cinta.

dscf6143
Pemandangan dari Atas Bukit Tanjakan Cinta

Kenapa bukit ini disebut tanjakan cinta?

Beberapa tahun yang lalu, sepasang muda mudi sedang pacaran di ranu kumbolo dan berakhir dengan si pria memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Si wanita memohon-mohon pada si pria untuk tidak memutuskan hubungan, sehingga si pria pun berkata “Kalau kamu bisa naik ke atas bukit ini, terus melihat kedepan tanpa menoleh ke belakang sekalipun, kita balikan.”

Perjanjian ini disaksikan oleh orang banyak, termasuk kepala kepala suku. Wanita ini berhasil melakukannya, naik keatas tanpa menoleh ke belakang sedikit, sehingga sesuai janjinya si pria harus kembali menjalin hubungan.

Mereka sudah menikah dan dikaruniai anak saat ini.

Teman-temanku yang notabene wanita modern tidak mengerti mengapa wanita tersebut mau melakukannya demi mempertahankan seorang laki-laki yang memutuskannya, mulut mereka menganga selama beberapa detik mendengar cerita tersebut meluncur dari mulut salah satu porter kami.

dscf6034

Pikiranku mulai berkelana dengan jutaan dugaan tentu saja, mencoba menemukan alasan bagi wanita ini untuk mempertahankan hubungannya.

Hasan, porter muda yang membantuku malam sebelumnya, menggelengkan kepalanya melihat aku dan E tidur tiduran di tenda.

dscf6104

“Baru kali ini, saya melihat pendaki gunung lebih menikmati tidur-tiduran di tenda dibanding mendaki untuk melihat pemandangan.” Katanya dengan polos sambil mengantar makan siang yang telah disiapkannya, semangkok besar kuah bakso, sepiring penuh tempe dan sosis goreng serta nasi putih porsi kuli.

dscf6108

Aku tersenyum kecil dalam hati, merasa tidak sanggup untuk meneruskan perjalanan ini, tapi apa boleh buat, tidak ada kendaraan yang bisa lewat untuk membawa kami turun kembali ke ranu pane. Aku mendengar Pak Bambang berkata bahwa ia harus menggendong E jika E tidak kuat melanjutkan perjalan kebawah.

Pak Bambang berkata bahwa kita harus makan meski tidak terlalu lapar, kalau tidak mereka tidak akan membawa kami turun ke ranu pane. Aku pun makan tetapi tidak sanggup menghabiskannya, terlalu banyak -.-!

img_1202
Dibalik dua rumah kayu ini, berderet kamar-kamar Toilet

Setengah jam kemudian, Pak Bambang dan Hasan telah siap merapikan tenda dan alat alat masak. Kamipun dibawa mereka melewati padang hijau muda dan melihat padang lavender, dari dekat ternyata warnanya bukan hitam melainkan ungu gelap!

img_20160924_090203_hdr

img_20160925_094324_hdr

img_20160925_093316_hdr

Setelah berjalan dan berfoto bersama di ladang selama setengah jam, medan yang sulit terhampar dihadapan mata kami. Kami harus mendaki naik sampai ke atas sekali lalu turun, mendaki keatas merupakan hal yang sangat sulit sehingga aku harus beristirahat setiap 50 langkah. Setelah kurang lebih dua jam akhirnya kami sampai diatas, lalu hujan mulai turun, sehingga kami harus mengenakan jas hujan. Hujan yang terus menerus membuat tanah menjadi becek dan licin, tidak jarang kami hampir terpeleset, dan bahkan jatuh ke air comberan.

MelewatiΒ perjalanan panjang selama 4 jam akhirnya kami pun tiba dibawah, di sawah!! Aku memetik sebuah cabe gendut lalu menggigitnya dalam perjalanan kami menuju ke parkiran mobil.

img_1293

img_20160925_130935_hdr
Hamparan Sawah

Karena merasa sudah sangat kotor dan kucel, kami memaksakan kehendak untuk numpang mandi ke tempat penginapan kecil didekat parkiran dibanding langsung menuju ijen dan mandi di penginapan dekat sana.

img_20160924_094412_hdr

Air panas yang dijanjikan pemilik penginapan tidak cukup hangat sehingga kami menggigil kedinginan sesudah mandi namun merasa cukup bersih setelah berkotor kotor ria selama hampir dua hari.

Setelah mandi, kami menikmati nasi ayam goreng dengan lalap dan sambal di kedai makan milik Pak Bambang. Pak Bambang meninggalkan anak dan istrinya di Banyuwangi karena usaha makanan dan juga pekerjaan sebagain porter/tur guide lokal didaerah ini, ia hanya pulang setahun dua kali untuk menjenguk mereka. Hidup memang cukup keras yach!

Hasan bercerita bahwa ia sebenarnya adalah seorang petani dan hanya mengambil pekerjaan porter/tur guide lokal di akhir pekan. Salah satu sawah yang kami lewati dalam perjalanan turun ternyata adalah milik kakaknya, sayuran disana terlihat begitu segar. Ia bahkan menawarkan kami untuk berkunjung ke sawahnya jika masih ada waktu. Orang dari daerah perdesaan memang lebih ramah dan polos, ku sadari.

Tentu saja kami tidak punya waktu banyak untuk berkunjung ke tempat lain, jadwal kami begitu padat sehingga sesudah makan kami langsung naik keatas mobil. Pak Budi berkata bahwa perjalanan dari Ranu ke Ijen akan memakan waktu selama kurang lebih 7 jam jika tidak macet namun bisa memakan 11 jam jika macet. Aku melihat ke arah jam tanganku, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.

4 jam kemudian, Pak Budi memarkiran mobilnya didepan sebuah mini market dan membangunkan kami jika kami ingin membeli sesuatu atau ke toilet. Betapa terkejutnya aku mendengar ini hanyalah 1/3 perjalanan kami karena kemacetan sepanjang perjalanan. Aku mulai pesimis kami tidak akan bisa menyaksikan api biru di Kawah Ijen, karena skenario terburuklah yang sedang terjadi disini – 11 jam perjalanan dan bukan 7 jam.

Seorang pria yang sepertinya merupakan rekan kerja Pak Budi, mengambil perlengkapan camping dari bagian belakang mobil lalu bertanya kepada kami, “Apakah kalian masih hendak melanjutkan perjalanan ke kawah Ijen? Api Biru hanya menyala selama 2 jam dari pukul 2 pagi sampai 4, sepertinya begitu kalian tiba hari sudah pagi..”

Dengan optimis dan sedikit jengkel, T berkata bahwa kami tetap akan melanjutkan perjalanan karena kami sudah terlanjur berada di tengah perjalanan.

Kamipun melanjutkan perjalanan.

“Karena jalan yang kita lewati ialah jalan yang juga dilewati orang-orang yang hendak kembali ke Surabaya dari pinggiran kota, jadinya macet.” Ujar Pak Budi.

Harga Paket Per Orang untuk Private Tour di Bromo, IJen, Ranu Kumbolo (Tur Pribadi) 4 Hari 4 Malam:
Domestic: IDR 2500000
WNA: IDR 3200000

*Harga belum termasuk tiket pesawat, tips, tunggang kuda di Bromo, sepatu sandal gunung untuk trekking, makan (kecuali di Ranu Kumbolo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s